Follow me @ndarikhaa

Friday, January 26, 2018

Gara-gara Citra : Khayalan Menjejakkan Kaki di Jejak Kerajaan Majapahit-Trowulan Menjadi Nyata


Pose terbaik di salah satu keindahan candi peninggalan Majapahit di Trowulan.

Setelah teringat saat merapihkan file foto saat liburan perkuliahan ini. Ada begitu banyak foto indah saat pelesiran ke Trowulan yang belum saya posting, maka saya putuskan untuk menuliskan secuil kisah perjalanan saya hingga sampai ke Bumi Wilwatikta. Semoga tidak bosan ya, karena saya berencana menuliskan paket lengkap asal-muasal perjalanan ini.

Berawal dari rasa penasaran saya terhadap Patih Gajah Mada, dimana universitasnya merupakan universitas impian saya sejak dahulu. Sayang nasib berkata lain, saya tidak pernah menjadi bagian dari Universitas Gajah Mada di ujung Selatan Jawa tersebut. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membaca sejarah terkait Gajah Mada melalui novel Langit Kresna (apa hubungannya cobak?). Namun yang pasti, setelah saya menamatkan 5 buah serial novel Gajah Mada tersebut, saya semakin penasaran dengan segala kisah dan lokasi yang terdapat pada novel tersebut.

Setelah bertanya dan memastikan pada pecinta sejarah di Kubbu, yakni Mas Achie, ternyata jejak kerajaan Majapahit dapat ditelusuri di Trowulan. Beberapa lama setelah itu, mas Achie share pengumuman di group Kubbu bahwa mereka akan berangkat ke Trowulan. Senangnya, gayung bersambut. Saya antusias sendirian kala itu. Apalagi setelah melihat list nama "Citra" yang tertera menjadi salah satu anggota yang pasti ikut (okay, yang penting ada satu perempuannya, santailah).

Saya langsung memastikan ke Mas Achie kapan tanggal fix berangkatnya? Surat cuti pun langsung saya eksekusi, dan yang pasti, mengamankan tiket kereta untuk berangkat. Kalau sudah ada tiket, saya bisa beralasan ke pimpinan kalau ternyata diberi tugas berdekatan dengan tanggal cuti tersebut. Okeh semua beres, surat cuti sudah disetujui pimpinan, tiket sudah terbeli, dan saya belum memikirkan kami akan menginap dimana kala itu.

Tibalah saya membahas penginapan. Saat itu akhir tahun, dan banyak yang tidak bisa ikut gabung trip tersebut. Terakhir saya sadar, hanya ada empat orang partisipan. Dua perempuan, dan dua lelaki, yakni saya, Citra, Mas Achie dan Bang MT. Tidak apa selama ada teman perempuan, kan mudah kalau sharing penginapan saya bersama Citra, dan Mas Achi bisa bergabung dengan Bang MT. Saat kami buat group kecil perjalanan ke Trowulan. Taraaa..... Citra nya koq cowok? Citra Rachman loh! Dulu saya punya kawan namanya Yenni Rachman itu perempuan, jadi yakinlah kemarin. Ah... Citra yang ini ternyata Bang Ocit, kenapa bikin list-nya Citra sik? Saya kan taunya Bang Ocit. But show must go on! Semua sudah siap.

Hari itu Sabtu, saya menuju Stasiun Pasar Senen untuk berangkat dengan kereta Gaya Baru Malam pukul 10.30 WIB. Sesampai di stasiun saya langsung kontak Mas Achie dan Bang MT, dimana mereka tidak menjawab panggilan. Saya kontaklah mbak Citra ini, dan akhirnya eugh, saya melihat wujudnya untuk pertama kali. Oh ya, as you know ya mbak Citra ini non PP di WA nya, kecuali blio ini sudah ngesave nomor kita, jadilah saya baru melihat beliau pertama kalinya. Alhamdulillah bang Ocit sangat ramah dan tampak kooperatif, yang tadinya saya deg-degan mau pergi dengan orang-orang yang belum saya kenal baik selain mas Achie, Alhamdulilah menjadi cukup lega.

Perjalanan Jakarta-Mojokerto memakan waktu 11 jam, kami tiba pukul 10 malam, dan belum menyewa penginapan!


Oke fine! Saat itu sudah malam, gojek mahal, sewa kendaraan online sudah tidak memungkinkan. Satu-satunya hal yang kami lakukan adalah : searching hotel yang masih ada kamar dengan budget sesuai. Kalau saya? Ah sudah ketemu situasi seperti ini sebodo amat, mau menginap di masjid pun boleh, sudah lelah. Justeru malah mas-mas ini yang memikirkan nasib saya, jadilah kami tetap mencari hotel, dan binggo! Setelah mendapat hotel, kami menuju hotel itu dengan apa? Becak! Hahaha.. lucu kalau diingat malam-malam ngebecak di kampung orang. Mana becak yang saya naiki sempat nyasar dan terspisah dari becak lainnya.
Foto Balkon Hotel Suryo Majapahit.
Alhamdulillah hotelnya homey, nah ini ujian saya untuk tidur sendiri. Mereka bertiga, curang. Yang saya lakukan kalau tidur di hotel sendirian adalah setel TV kencang-kencang, dan tidur menggunakan headset, setelah baca doa tentunya. Bukan apa-apa ya, tapi kan masalahnya kita menempati kamar kosong yang biasanya dihuni sama "dia". Besoknya kami sarapan di balkon, dengan nasi goreng dan teh manis, kemudian melanjutkan prjalanan ke Trowulan. Yup, FYI (for your information), Trowulan masih sekitar satu jam dari Mojokerto... wakwaw!!! Kamipun segera checkout dan menyewa mobil untuk jelajah Trowulan Napak Tilas Majapahit.
Foto : Peta Wisata Trowulan.
Menurut saya dengan adanya Peta Wisata ini, sangat informatif untuk menentukan pilihan tempat yang akan kami kunjungi. Berdasarkan Peta ada 15 destinasi yang bisa dituju, yakni :

  1. Makam Agung Troloyo
  2. Candi Kedaton
  3. Pendopo Agung
  4. Museum Majapahit
  5. Kolam Segaran
  6. Candi Bajang Ratu
  7. Candi Tikus
  8. Kubur Panjang
  9. Gapura Wringinlawang
  10. Pusat Perkulakan Sepatu Terpadu
  11. Yoni Klinterejo
  12. Candi Gentong
  13. Candi Brahu
  14. Siti Raggil (Makam Raden Wijaya)
  15. Vihara Majapahit

Beruntungnya, sewa mobil yang kami pinjam saat itu adalah pemiliknya langsung dan putera aseli Mojokerto yang menjadi driver kami. So, kami percayakan saja tempat-tempat terbaik menurut beliau dan yang pasti yang sangat mewakili Majapahit, karena itu tujuan utama kami dan sebisa mungkin dalam tempo waktu yang singkat.

Foto : Pecel Wader yummmmie.
Sebelum memulai napak tilas, karena sudah mendekati waktu makan siang, kami memarkir mobil di tempat paling ramai diantara warung yang kami lewati. Berlokasi tepat di sudut Pecel Wader Pakde ini yang paling ramai dan luas yang kami pilih. Tidak sia-sia mencari yang paling ramai pembeli, karena rasanya ueeeenaaaaaak  sekali, meskipun rela agak menunggu antrean yang cukup lama.

KOLAM SEGARAN


Foto yang diambil dari sudut kolam, tidak cukup mengambil semua sudut Kolam Segaran.
Kolam Segaran ini sangat luas dengan panjang 375 M dan lebar 175 M (sumber : google). Foto di atas saya ambil dari salah satu sudut kolam, dan tidak berhasil mengambil sudut-sudut lainnya karena luasnya seperti lapangan bola melalui kasat mata saya saat itu. Konon, penjelasan mas Mansyur, sang drver, legenda Kolam Segaran ini adalah lambang kemakmuran. Raja Majapahit nelakukan jamuan disekitar kolam ini. Untuk menunjukkan kemakmuran Majapahit, setiap kali selesai menjamu, maka piring, gelas, sendok ataupun peralatan emas lainnya dibuang ke kolam oleh Sang Raja. Sesungguhnya, terdapat jaring-jaring di kolam tersebut, sehingga peralatan emas tembaga tersebut tidak benar-benar dibuang (manipulasi Majapahit untuk melambangkan kemakmuran semata).

Yang ada di otak saya saat itu adalah : macam mana jaring yang dipasang untuk menutupi kolam seluas ini? Ah, di luar batas imajinasi saya sesungguhnya.

Enaknya kalau pergi lebih banyak kaum Adam, sedang duduk sebentar saja saya langsung diminta bergaya. Cekrek! Cekrek! Haha.. with pleasure.

MUSEUM MAJAPAHIT
Foto : Gerbang Museum Majapahit.
Museum ini searah dari Kolam Segaran, sebagai efektifitas waktu, kami mengunjungi lokasi wisata yang berdekatan. Masuk ke dalam museum ini kami membayar tiket Rp.2500,-, sangat murah dengan sajian yang menurut saya sangat mengesankan 😍😍😍.
Foto : Salah satu bagian interior museum.
Di dalam museum Majapahit ini kami merasakan lintas batas waktu, dan merasa tersedot hingga ratusan tahun lamanya. Ruangannya bagus, barang-barang ada yang berjejer rapih dimasukkan ke kaca ataupun yang dipajang seperti tampak di atas. Kalian ada sudah pernah ke Museum Nasional di Jakarta (baca : biasa disebut juga Museum Gajah, diseberang Monas) ? Di sini lebih lengkap, dan pastinya all about Majapahit.

Saat kami kunjungan ke sana, kebetulan kami satu rombongan dengan para Akademi Polisi di Magelang, jadi kami nebeng guide di sana. Mulai dari mata uang, gerabah, peralatan perang, pokoknya peralatan yang pernah saya dengar sebelumnya melalui Novel Gajah Mada, saya temukan semua di sini wujud aselinya. Senangnya...
Foto : Taman di sekitar Museum Majapahit.
Ruangan dalam yang super komplit, nah ini salah satu sudut tamannya. Mau tau lagi yang lebih rinci? Ah, sebaiknya kalian ke sana untuk mencobanya sendiri. Indah banget sob!
Foto : Saya, Mas Achie, dan Bang Ocit sibuk mendokumentasikan dari bangunan panggung.
Interior lengkap, Eksterior taman yang cantik dan menarik, masih ditambah ada bangunan panggung yang bisa kita naiki untuk melihat fokus pada bangunan di tengah. Bangunan apakah gerangan?
Swafoto : bangunan reruntuhan peninggalan rumah penduduk Majapahit.

Foto : Salah satu reruntuhan rumah penduduk Majapahit.

Konon, replika ini adalah bangunan sungguhan yang tersisa, oleh karena itu dilindungi. Pengunjung tidak boleh mendekat, karena nanti mudah rusak. Bangunan panggung seperti foto saya di atas lah cara terbaik untuk menikmatinya.

RUMAH ARSITEKTUR MAJAPAHIT
Foto : Sepanjang jalan rumah di Desa Bejijong, dibangun ulang dengan Arsitektur Majapahit.
Ada tiga Desa yang sudah dibangun dengan arsitektur rumah penduduk ala Majapahit seperti di atas, namun yang kami kunjungi adalah Desa Bejijong. Rumah-rumah ini hanya ditempati saja maupun untuk usaha, belum dimaksimalkan sebagai homestay. Jadi, kami hanya singgah sebentar untuk berfoto-foto.
Foto : Entah mas-mas ini semua sibuk bebenah, saya sibuk lihat kamera saja.
Foto : Bergaya abdi ndalem keraton, akhirnya Bang MT difoto juga.
Foto : Mas-mas yang satu ini sangat menjiwai, serasa pulang ke kampung halamannya.
Foto : Paduan baju adat jawa dikombinasi dengan sarung motif Aceh Gayo.
Foto : Saat mas-masnya modern bergaya abdi ndalem, saya yang biasanya katro bergaya kekinian saja.

Foto : Pasarah melantai, maksudnya memperlihatkan ornamen rumah dari atas sampai bawah yang indah.
Foto : Thanks loh Bang MT! Seragamnya sangat memper-Kece kita semua.
Kita doakan saja, agar kedepannya rumah-rumah Majapahit ini sudah dapat difungsikan menjadi homestay bagi para wisatawan yang singgah ke Trowulan.

MAKAM TROLOYO



Makam Troloyo ini melambangkan adanya kehidupan komplek muslim pada jaman kerajaan Majapahit. Salah satu makam ini (dipercaya) makam Sayyid Jumadil Kubro, kakek Sunan Ampel. Keturunan dari Sayyid Jumadil Kubro inilah yang kelak saling terkait merupakan awal mula Wali Songo dan penyebaran Islam di Indonesia. Beliau bisa sampai ke Pulau Jawa bermula untuk mencari putranya di Kerajaan Champa (Cerita lebih lanjut bisa disimak di buku Sabda Palon ke-2).

Saat ini komplek makam sangat terawat, menjadi tempat singgah para santri yang ingin melakukan ziarah kubur. Angin sepoi-sepoi dipenuhi pohon yang tinggi dan rindang membuat saya betah duduk bersantai dikomplek pemakaman ini. Jauh dari kesan angker seperti pemakaman pada umumnya, karena ramainya pengunjung yang silih berganti.

CANDI BAJANG RATU

Kami mulai mengunjungi situs candi yang direkomendasikan. Rata-rata tiket untuk masuk ke dalam candi adalah Rp.25.00,- - Rp3.000,-. Begitu memasuki komplek candi ini, hawa sejuk dari angin yang bertiup kencang menggerakkan pepohonan rindang di sekitar komplek candi. Candi Bajang Ratu berdiri megah persis di tengah komplek.

Bajang Ratu" dalam bahasa Jawa berarti "raja / bangsawan yang kecil / kerdil / cacat". Dari arti nama tersebut, gapura ini dikaitkan penduduk setempat dengan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit). Berdasarkan legenda setempat, dipercaya bahwa ketika kecil Raja Jayanegara terjatuh di gapura ini dan mengakibatkan cacat pada tubuhnya, sehingga diberi nama "Bajang Ratu" ("Raja Cacat").


Foto : Candi Bajang Ratu tampak samping.

Foto : Candi Bajang Ratu tampak depan.

Foto : Full team difotokan oleh kawan Blogger cabang Trowulan.
CANDI TIKUS
Foto : Pemandangan yang terlihat dari Candi Tikus, Siluet Gunung Arjuno
Letak candi ini tidak jauh dari Candi Bajang Ratu. Pemandangan yang sangat  indah siluet Gunung Arjuno yang pertama kali menarik minat saya. Konon Gunung Arjuno merupakan tempat yang bersejarah dan sangat terkait erat dengan tempat pertapaan pada jaman Majapahit lalu.


Kamu pernah mendengar Candi Tikus? Siapakah orang yang pertama kali memperkenalkan kamu dengan nama candi ini? Yup! Guru sejarah saya saat SMP lah yang menyebutkan nama candi ini, dan luar biasa saat saya menginjakkan kaki pada bangunan yang bersejarah ini. Ada kebanggaan saya akan bangsa ini yang memiliki sejarah luar biasa.

Dinamakan candi tikus, karena saat ditemukan dari reruntuhan, candi ini merupakan sarang tikus. Sedangkan dilihat dari bangunannya bangunan candi ini seperti tempat pemandian, karena ada beberapa kucuran air yang keluar dari lubang-lubang candi.

Foto : Candi Tikus dikelilingi tanaman dengan tulisan "Candi Tikus"
CANDI BRAHU
Foto : Arsitektur Candi Brahu lebih kepada bangunan Budha, agak terlihat berbeda dengan candi sebelumnya.
 Berdasarkan bentuk bangunan, candi ini agak sedikit berbeda, tidak menyerupai pura seperti dua candi sebelumnya. Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Akan tetapi, dalam penelitian tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995.



Foto : Suasana candi Brahu yang lebih bersahabat dibandingkan candi sebelumnya.
Terlepas dari sejarah, hari itu sudah cukup sore kami tiba di candi Brahu, kami hampir kelelahan, tetapi tidak sempat bosan. Saat kaki ini melangkah ke dalam Candi Brahu, suasana yang lovable dan sangat nyaman kami dapatkan di tempat ini. Rumput yang begitu hijau, semilir angin menerpa wajah kami, dan pemandangan candi ini lebih seperti taman bermain ketika ada beberapa anak kecil berlarian. Oke! It's our time for photoshoot!

CANDI WRINGINLAWANG

Foto : Candi Wringin Lawang tergambar persis seperti buku Gajah Mada ke -5 : Hamukti Mosa.
Candi ini justeru yang sangat saya nantikan dari awal. Sejak dari rumah saya sangat niat membawa buku yang paling saya suka dalam serial Gajah Mada : Hamukti Mosa. Di buku ini, ending dari Maha Patih Gajah Mada digambarkan sangat jelas dan pilu, saat-saat beliau hancur dikarenakan keputusan yang beiau ambil.

Candi Wringin Lawang yang merupakan gerbang pintu masuk Kerajaan Majapahit digambarkan dekat dengan kediaman Maha Patih Gajah Mada. Saat itu, di sore hari yang syahdu, sejuk, dan sunyi karena cukup jauh dari jalan raya untuk candi yang satu ini. Saya menepi dari yang lain. Berdiri di atas gerbang Purwaktra.

Saya memejamkan mata, membayangkan lukisan di tempat ini pada abad ke-14 lalu. Dengan gagahnya Sang Patih Gajah Mada seorang patih yang awalnya dari orang biasa menjelma menjadi Sang Maha Patih atas kerja kerasnya, intuisi yang selalu cerdas, ketangkasan dalam bertarung, kecekatan dalam pengambilan keputusan, dan kelihaiannya dalam menyatukan Nusantara berjalan melewati gerbang tempat saya berdiri saat itu.

Blashhhh!!
Lamunan saya buyar, dibawah kontrol otak saya sendiri saya mencoba keluar dari lintas imajinasi yang khawatir terlalu jauh. Saat itu hampir tiba adzan Magrib, kan ndak lucu kalau ada berita viral seorang gadis Bekasi kesurupan di Gerbang Purwaktra, Trowulan?
Foto : Turut mencoba berjalan dari atas gerbang Purwaktra.

Berdasarkan foto di atas ini, tepat di balik punggung saya, pada abad ke-14 lalu adalah wilayah Pusat Kerajaan Majapahit. Saat ini, hanya hamparan sawah hijau luas membentang yang saya lihat. Benarkah ini lokasi pasti yang menjadi saksi bisu kerajaan Majapahit? Semoga muncul ahli-ahli sejarah generasi selanjutnya yang terus membuktikan secara ilmiah sejarah bangsa ini. Sejarah dimana Nusantara sedang berjaya. Sore itu kami mengakhiri jelajah candi di Trowulan.

Budha Tidur
Situs sejarah Majapahit yang kental dengan agama Hindu, sudah. Makam Troloyo asal muasal lahirnya wali songo terkait agama Islam, sudah. Yuk,  saya ajak kalian mengunjungi Patung Budha Tidur. Di Indonesia ternyata ada 5 lokasi patung Budha Tidur yakni di Bali, Semarang, Bogor, dan Batu. Akan tetapi, ternyata yang terbesar di Indonesia, ya di Mojokerto ini. Bahkan terbesar ke-3 di dunia setelah Budha tidur di Thailand dan Myamar. Kita patut berbangga wahai pemuda Indonesia!
Foto : Patung Budha Tidur di belakang saya ini buatan pematung Mojokerto lho!


Patung di belakang saya menggambarkan Budha Gautama dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Masuk ke dalam wilayah Vihara ini cukup Rp3.000,-. Tempatnya sudah bagus, terkondisi untuk tempat wisata, toilet bersih, ada vihara, dan pada saat kami ke sana ada latihan gamelannya juga. Patung ini selesai dibuat oleh pengrajin Trowulan YM Viryandi Maha Tera pada tahun 1993, terbesar se-Indonesia.
Foto : Kami berempat mempergakan gaya ptung-patung yang ada di taman vihara tersebut.

Foto : Sudahlah bang terserah kau mau bergaya apapun macam penyanyi India (ini juga di taman sekitar vihara lho).



Foto : Pernak-pernik lucu untuk buah tangan.
Beberapa toko souvenir di sini menurut saya yang paling baik dan bagus, karena tidak ada buah tangan lagi di tempat lain (candi-candi yang lain) yang paling unik untuk buah tangan. Sayang sekali saya tidak banyak membawa uang tunai, dan ATM tidak terlalu banyak di sana. Next perbanyak uang tunai ya kalau mau membeli souvenir gantungan kunci Budha Tidur di sini.

MELEPAS LELAH DI PEMANDIAN AIR PANAS PACET

Trowulan ke Pacet (Padusan) ini berjarak tempuh sekitar 60 menit. Keadaan di sana hampir seperti puncak Ciawi, berada di ketinggian, sejuk lebih ke arah dingin, berembun, bahkan kalau bernapas keluar asap. Kami ingin melepas lelah dengan berendam air panas. Kami pilih kolam terbuka yang lebih enak, sayangnya saat itu saya tidak membawa baju ganti, jadi cukup berendam kaki saja sebagai refleksi penyegar jemari kaki yang telah dipakai keras untuk berjalan seharian ini. Aor hangatnya berasal dari mata air langsung, hangatnya pas. Sungguh kenikmatan hakii yang sulit dideskripsikan. Patut dicoba!



Setelah berendam di air panas, kami makan soto di sana. Entah kenapa sotonya terasa nikmat sekali. Mungkin kami lapar. Malam itu kami berniat menghabiskan malam di puncak Pacet, Padusan, untuk bersiap ke-esokan harinya. Nantikan kisah kelanjutan kami menyebrang Pulau Madura (next cerita). Untuk cerita napak tilas Majapahit nya yang rencana kami ingin habiskan dua hari, ternyata bisa dipersingkat one day trip, dengan pertimbangan ada beberapa candi yang hampir sama dan berdekatan kami lewati, karena sudah dapat dilihat dari luar. Sebenarnya jika waktunya masih panjang, saya pun masih betah dan mau lanjut lagi melihat lokasi lainnya yang belum sempat dikunjungi.

Finally, I would like to thanks alot ke Bang Ocit! Kalau tidak mencantumkan nama Citra, pasti saya mikirnya terlalu lama, kebanyakan pertimbangan, dan berujung gak jadi. Apalah saya jika menunda momentum saat itu, belum tentu mendapat kesempatan lagi untuk waktu dan yang lainnya.

Kalo temen saya bilang mikir ben keri! (dipikir belakangan). Tentunya juga pergi dengan orang-orang yang dipercaya dan bertanggung jawab seperti mereka. 

Untuk Mas Achi juga Bang MT telimikichi sudah diperkenankan ikut. Pergi dengan orang-orang yang berwawasan seperti kalian dan mau saling sharing dengan pembelajar seperti saya ini sungguh suatu hal yang berkesan bagi saya. Sukses buat kalian!

Nah, kawan-kawan yang membaca kisah singkat saya ini, yakin gak mau mencoba kesana? Ditunggu ya cerita dari kalian.




70 comments:

  1. Waahh aku pengen banget ke Trowulan. Keren banget sih itu pake lurik segala. Jadi kayak orang sana beneran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbakque sedia mampir, iya Alhamdulilah dadakan gtu, ternyata kostum merupakan daya ungkit foto.. hihi

      Mnurutku Trowulan udah siap dijadikan tempat wisata banget mbak, nyaman, aku suka! Next time kalo ad kesempatan buat balik pun enak deh mbak..😍

      Delete
  2. Wha lengkap banget. Haha. Oh ini ya foto2 lain yg suka dishare mjd ndari tungga dewi. Btw pendahuluannya lucuk, "Citra" hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kart, ternyata lama juga ya kalau mau nulis agak lengkap, butuh perjuangan πŸ˜…

      Iya, dlu pernah janji harus aku buat ini cerita gegarΓ  ini, Alhamdulilah, janji tuntas juga "gara2 bg Ocit" nyaπŸ˜‚

      Yup,ni klo mas Achie ngeledekin Tungga Dewi, inget aja kamu Kart?

      Delete
    2. Iya inget, berulang2 soalnya πŸ˜‚

      Delete
  3. Ihhh aku juga mau kesana! Mana Kak Ndari beberapa kali ngulik sabda palon di tulisan ini. Jadi pengen cepet baca. Btw, enggak coba buat nyelem kedalem kolamnya? Kali aja bisa nemu sendok emas, piring emas. Hahaha. Terus tuh pecel wadernya buat laper pulak! Aku baca pas lagi laper-lapernya. Dan air panasnya, enggak ada yg versi kamar mandi khusus wanita?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh aku lupa masukin cerita " Mas Achie kemarin nendang gelas abang2 es kelapa Muda juga di kolam Segaran πŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜‚.
      Pecel wadernya enak abis,blom pernah dapet yang seenak itu lagi.

      Iya air panasnya umum, banyak wanita sama anak-anak juga koq disana.

      Nah aku baru baca Sabda Palon 1-2 aja udah berkaitan, gak sabar mw baca semua juga (tapi mihil) wkwkwk

      Delete
  4. Tulisan ini mengingatkan perjalanan kita setahun silam. Pengen banget balik lagi. Belum puas, pengen berlama-lama di halaman candi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Achie, semisal balik lagi mesti pakai gaya slow motion biar lebih enak nikmatinnya πŸ˜„

      Delete
  5. Foto-fotonya lucu mbak. Yang dirimu pake kacamata, gaya kekinian.
    Bang Ocit juga, yg foto dibalik pohon.
    Pingin banget ke patung Sleeping Budha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihiii thΓ nks mas Ris, masih banyak stoknya juga nih πŸ˜„

      Sok ke Sleeping Budha, kece lho
      .

      Delete
  6. Baru desember lalu kesana... ntar mau ke sana lagi bareng2 anak kubbu ah.. pasti lebih seru.. ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwahhh Bang Eka mah kmana2 udah yah..tinggal ngulang2 aja... Sipp bang Eka, bareng Kubbu bakal lebih seru😍

      Delete
  7. membaca tulisan Ndari yang begitu deskriptif membuat aku berkhayal sebagai Putri Majapahit yang duduk manis di Trowulan. Aku suka tulisannya, santai dan padat informasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwaaaa ka Yun bisa aja ngebayangin jadi Putri. Mohon kritikannya bu Guru buat next tulisan, biar ku semakin rajin hihii..

      Delete
  8. Kak Ndariiii, haturnuhun tulisannya, lengkap dan informatif, seperti penawar rasa penasaran untuk saya yg dua kali batal dadakan trip ke trowulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aishhh k Tuti, smoga nda spoiler yah,, smoga dapat waktu yang pas buat berkunjung ke sana

      Delete
  9. Keren. Mulai baca bukunya dulu, sebelum kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup Bang Taumy, nda baca juga cukup indah, tapi kalau setelah baca bakalan lebih meresapi sejarahnya.

      Delete
  10. Banyak juga yaa destinasinya. Pemandian air hangat nya asik tuhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak bang Tengku, saya juga suka pemandiannya,lokasinya indah,menyejukkan.

      Delete
  11. Ahh bikin iri dan mupeng jadinya. Trip kece inih, besok kudu ikut nih yg sama kubbu

    ReplyDelete
  12. Buat ka Arlind yang hobby nya ngetrip, ini bisa dicoba kak πŸ˜‰

    ReplyDelete
  13. Ah, bikin iri. saya juga pengen banget ke sana tapi belum kesampaian, huhuhu

    ReplyDelete
  14. Yeay smoga kak Mae sang vloger bisa kesana, trus dimasukin ke netizen journalist lagi,biar makin kece kalo udah go public ya kak..😘

    ReplyDelete
  15. Akhirnya tulisan ini menetas jugaaaa...hahahahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwaaaa bang Ocit,njleb amat deh πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  16. Seru ceritanya. Pingin bget jlan2 kesana.
    Dari dulu penasaran itu syeikh jumadil qubro yg makamnya di trowulan apa bukn ya. Soalny ktanya beliau dimakamkan disulawesi.
    Legend bget itu syeikh qubro. Kaya syeikh quro di jawabarat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoooo aku baru tau mas Nasa.. Γ ku pernahnya ke Makam Pangeran Diponegoro aja pas di Makassar, sekali kalinya itu diajak bos

      Delete
    2. Ada foto makamnya syeikh kubro g yah. Kalo ada japri dong

      Delete
  17. Keren Mba ceritanya. Aku suka cara penulisannya, gak ngebosenin hehehe

    ReplyDelete
  18. Gaya berceritanya enak. Dan berhasil membuat gw penasaran sama novel Gajah Mada dan Trowulan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Howww wajib baca sik mnurut gw klo novel Gajah Mada, novel non menye2 itu Ben

      Delete
  19. Wajib nih jd tour napak tilas Kubbu.. bikin penasaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang mbak, Bang Eka sudah bilang koq,mesti jadi tournya

      Delete
  20. Ndariii...tulisannya kereen. Jd mupeng pengen kesana tp pastinya bw pasukan di rmh...liburan sekalian nambah wawasan.tks yaa infonyaa....😎😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaawww maacie mbak Uli sudi mampir n baca, iya mbak, aku inget mbak bilang suka sejarah gitu, jd aku kirimin.. oke mba Uli, ditunggu tour Trowulan nya nanti..πŸ˜ŠπŸ˜‰

      Delete
  21. Seru banget ini perjalanannya, dan aku ngakak sama pembukaan dan foto-fotonya ���� ah jadi pengen ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuuu Antin, nanti kalau kesana udah siapin konsep pose foto2nya kalo gitu πŸ˜„πŸ˜

      Delete
  22. Langsung salfok sama pecel wadernya πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹ jadi pengen ke sana kalo pas pulkam ke surabaya..
    Setelah ini jadi makin penasaran ama buku sabda palon trus jadi pengen baca gajah mada juga..
    Ditunggu cerita lanjutan ke madura kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yey kamu membuatku semangat menulis lanjuyannya.. siap, dibaca yaa nanti lanjutañya 😝😘

      Delete
  23. Wah seru banget tripnya kak. Pasti berkesan, soalnya walaupun udah lama tapi masih bisa diceritain detail. Btw ini tampilan baru blog kakak ya? Bagus kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gya Kharinn tau aja ini udah lama, iya nih, banyak cerita2 seru yg blum pernah ditulis oleh pemalas satu ini..sip,ditunggu yaa kelanjutannya 😘

      Beteww,iyah!! Aku dibuatin mba Ning cara mempercantik blog, masih blom bisa klo sendiri..wkwkwk

      Delete
  24. Khayalan mu adalah masa depan mu, jadi sering-seringlah berhayal jangan berpikir hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkkww boleh2, asal jangan kebanyakan menghayal, ga sampe2 nanti yakk klo ga dilakoni.. btewe iki akun blog syapa yak?

      Delete
  25. Gue komentar heem aja deh hahahhaha...

    ReplyDelete
  26. Tambah pengen kesana 😍😍😍

    Btw, baju lurik kah itu? Koq kece bingit ya 😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuu itu Lurik Jogja ka Hay, dan khusus cowok juga, aku hanya memodifikasi cara pakai nya saja biara agaknkeliatan beda sama para mas2nya..

      Padahal mah sama bae..πŸ˜‚

      Delete
  27. Oke, makin siap nabung lah aku kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh chaa..tapi overall budget kesini ga gede koq,makanan pun murah2... Mungkin transport yahh

      Delete
    2. Boleh chaa..tapi overall budget kesini ga gede koq,makanan pun murah2... Mungkin transport yahh

      Delete
  28. Serius tapi santai, serius karena didalami dulu semua aspek sejarah dari Gajahmada hingga tulisannya lengkap dan informatif.
    Serius dengan kostum kostumnya juga.
    Tapi tetap santai menikmati perjalanannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga ada seriusnya koq k Muti, baca novelnya pun dinikmati

      Delete
  29. Asli gue fokus ke foto-fot9 kalian, lucu lucu hahahahaha

    ReplyDelete
  30. Tulisannya lengkap, tapi bacanya ga berat, apalagi ada foto-fotonya yang lucuuu 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena banyakan fotonya ketimbang tulisannya ya Kal

      Delete
  31. Replies
    1. Doel.. ngrasa ad yang berubah gak dengan alamat blog gw? πŸ˜‹

      Delete
  32. Iihh seragamnya lucu dan bagus banget, jadi pengen lihat detilnya buat bikin macam itu 😍

    ReplyDelete
  33. Pecel wader... Bikin perutku kriuk-kriuk. Kayaknya bakal ngidam pecel wader deh ini,haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaduh bahaya nie, wkwkwk,smoga kturutan yak...btewe maaciw ning blog aku jd bginih 😘😘😘

      Delete