Follow me @ndarikhaa

Thursday, October 4, 2018

Puding Mangga Sederhana Mang-Iky : Dibuat Spesial Penuh Cinta

07:27 0 Comments
Yak! Setelah absen vakum sangat lama dari dunia ulak-ulik berantakin dapur, akhirnya ku kembali lagih! Kali ini pingin banget ngewujudin khayalan buat Ikiku sayang. Jadi ceritanya hari Senin tuh mau ketemu sama dedek Ikiduth akuh yang bentar lagi besar, ga bisa dicubit-cubit , pegang, or peluk lagi pasti kalo dia beranjak dewasa. Jadi, kayak kepingin buatin makan dia aja gituh. Tapi kan ku belom bisa masak! Haha jadi yang simple dulu ajah... Jadilah terpikir : Puding Mangga!

Kenapa namanya puding Mang-Iky? Yhaaaa karena puding Mangga- khusus buat Iky #eaaaah

Akhirnya dengan kekuatan CINTA... tadaaaa... hari Minggu padahal pulang malem, dan minimarket udah kelewat. Akhirnya putar balik deh membeli bahan-bahan Puding Mangga beserta gelas-gelas plastik. Kali ini optimis berhasil! Padahal empek-empek yang waktu itu aja gagal total (karena emang iseng kali yah bikin pempek, gak diniatin buat siapa gitu...)

Bahan-bahan


   
Dan Bahan-bahannya adalah :
  1. 1 bungkus agar-agar swalow globe putih
  2. 2 sendok makan Tepung Maizena (20 gram) , dicampur air 50 ml, aduk
  3. 500 ml susu UHT Ultra (atau dua pack kecil)
  4. 1 sachect susu kental manis
  5. Jus Mangga Buahvita yang satu liter (yang dipakai 3 gelas kecil, lebih kurang 600 ml). Kalau punya buah mangga, lebih bagus lagi warnanya.
  6. 3 centong sayur Gula Pasir (sekitar 200 gr)
  7. 1/4 sendok teh garam 
  8. My Vla (atau buat sendiri sesuai pilihan)

Pengolahan

  • Masukan satu sachet agar-agar ke dalam panci (api belum dinyalakan), dicampur bahan nomor 2, aduk hingga merata
  • Masukan susu cair perlahan, aduk
  • Masukan susu kental manis, aduk. Barulah nyalakan api kompor.
  • Sambil terus mengaduk, masukan 3 gelas (@ 200 ml), perlahan, sambil aduk
  • Kemudian masukan gula pasir, sedikit demi sedikit sesuai selera kalau tidak suka manis, jadi 3 centong sayur (+/- 200gr), menghasilkan rasa manis Jambu, kemudian taburkan gara,
  • Aduk terus sampai mendidih, teksturnya nanti berwarna lebih kuning pekat, mengental saat sudah mulai mendidih.
  • Diamkan sebentar (siapkan My Vla, racik sesuai petunjuk)
  • Cetak puding pada cetakan yang telah disiapkan.

Hasilnya

Hmmmm... alhamdulillah jadi! Ya Allah, senangnya hatiku. Iky bahkan makannya sekali telan kemasan. Ya Rabb seneng banget akutuh ngeliatnya. Sayangnya ga bisa bawa banyak. Ribet choy Bekasi-Cikarang! Ternyata ngeliyat anak orang makan lahap aja enak bener yaaak, apalagi anak sendiri nantilah.. #kan kan kan mulai... hahaha....

Setelah itu, kumain sepuasnya bersama Iky. Sebentar sih, but Q-time banget!
Gyaaaaa sampai jumpa Iky versi remaja nanti, dimana bakal lebih tinggi dari Mb Ndari, lebih langsing dari sekarang (semoga), suara serak-serak banjir, dan makin ganteng ya Iky... Hihi... See you mmuah...

Don't Grow up so fast Ikyyy...








Wednesday, September 5, 2018

MUSEUM MACAN : cara asyik menikmati seni

10:34 37 Comments


Sudah tidak asing lagi bukan dengan Museum MACAN yang merupakan singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara yang terletak di AKR Tower Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Awalnya saya mengira kalau museum ini mengerikan dan berisi berbagai jenis hewan macan sebelum saya mengetahui kepanjangannya. Ternyata... wow isinya sungguh mencengangkan dan membahagiakan! Sebelumnya ada beberapa hal yang ja
ngan terlewat ya..

Menuju Lokasi

Bagi orang seperti saya yang mudah pusing dengan kemacetan ibu kota, kereta listrik (KRL) merupakan moda paling tepat yang saya pilih. Lokasi Museum Macan ternyata cukup mudah, tidak sesulit bayangan saya. Kita bisa turun di Stasiun Taman Kota (jalur KRL Tangerang), kemudian dilanjutkan dengan perjalanan sekitar 7 km menuju AKR Tower (jadi jangan mepet untuk estimasi waktu ya). Sedangkan dengan moda transportasi bus Trans-Jakarta, kita bisa langsung turun di halte busway Kebon Jeruk, dan hanya berjalan kaki sedikit langsung di seberangnya sudah sampai AKR Tower.

Museum Macan buka mulai pukul 10.00 - 20.00 WIB, buka dari hari Selasa s.d Minggu. Sepertinya kebanyakan museum libur di hari Senin, sebelumnya saya sangat semangat berangkat menuju Museum Macan, sampai tiba-tiba di tengah perjalanan baru ingat saat itu hari Senin, akhirnya saya kembali ke rumah.

Untuk tiket bisa dibeli online maupun on the spot. Saran saya pergi ke Museum Macan bukan di hari libur akan lebih nyaman, karena tidak terlalu ramai. Estimasi waktu untuk menikmati seni yang ada di dalam ini lebih kurang dua jam, kalau lebih lama juga bisa tergantung menikmatinya seperti apa.

Oh ya, ternyata tema museum Macan itu berbeda-beda, tidak seperti yang saya kira. Dahulu saat sedang ramai dan hits cerita dari kawan-kawan saya yang posting di instagram, karya seni yang dipamerkan lebih kepada jaman Perang Dunia, dan bertema sedikit perdamaian dunia.

Kunjungan saya kemarin ternyata menyuguhkan full karya Oma Yayoi Kusama dengan tema "Life is the Heat of Rainbow" yang berlangsung selama 12 Mei - 9 September 2018. Ternyata isinya berbeda dengan kawan-kawan saya yang sudah mencoba "infinity room" sebelumnya. Sebelumnya harga tiket Rp.50.000,- menjadi Rp.100.000,-. Hmmm... terdengar tidak murah ya? Namun sangat sebanding setelah menikmatinya langsung. Otak saya terasa terbebas dan "out of the box". 

Berikut rekam jejak saya mengabadikan momen yang mengasyikan ini :

Labu Polkadot


Pertama kali masuk, suasana hati pun menyenangkan disambut bola polkadot kuning-kuning besar seperti ini. Awalnya saya bingung, ini fungsinya apa ya? Ternyata ada bola-bola tertentu yang memiliki "sudut intip". Lubang kecil yang hanya ada di beberapa balon, bisa kita lihat seperti di bawah ini :

Oh, ya bola yang paling besar diantara bulatan-bulatan kuning tersebut juga dapat kita masuki lho untuk berswafoto. Saya terlewat masuk ke dalam booth labu yang paling besar saking takjubnya dengan interior seni di sana.

Narcissus Garden

Taman indoor ini tidak ada tumbuhannya sama sekali, justeru pada Narcissus Garden ini terdapat 1500 buah bola perak yang terbuat dari alumunium. Di tengah taman terpajang lukisan Yayoi yang besar dan mencolok. Di sini kita dapat berfoto, namun bergantian dan dilarang menyentuh ataupun menggesar posisi bola-bola perak yang dipajang.


Colurfull vs Black-White

Selain mebuat hasil karya seni yang menarik, ternyata hasil lukisan Yayoi pun sangat banyak, unik, segar, dan menarik. Pada pameran ini, arena lukisan hitam putih dan warna-warni dijadikan satu arena tersendiri, sehingga pengunjung dapat menikmatinya sesuai katagori warna.



Ruangan Biografi

Ruangan ini berisi kisah Yayoi Kusuma, yang ternyata mmenderita penyakit tekanan mental sejak kecil akibat perang dunia pada saat itu. Dikisahkan semua karya berdasarkan perjalanan karir dunia seni dirinya yang hijrah ke New York. Kamipun tertegun, imajinasi yang beliau wujudkan adalah dunia khayal yang menemaninya sedari kecil. 

All about Infinity

Jadi yang paling hits dari pameran ini adalah ruang "infinity room". Entah menggunakan teknologi sejenis pantulan cahaya dan air, ruang ini jadi sangat menakjubkan. Untuk masuk ke dalam ruangan ini maksimal 5 orang dan dibatasi antrean hanya 30 detik, jika ingin mengulang diperbolehkan, asalkan antre ulang.
Warna cahaya lampu selama 30 detikpun berubah-ubah, variasi bisa berubah dominan merah,biru,hijau,kuning, dengan hitam tetap paling dominan.





Beberapa foto di atas secuplik permainan spektrum warna yang dihadirkan oleh Oma Yayoi dalam peralatan seni 3D yang berbeda-beda. Duhhh..happy banget pokoknya...

Obliteration Room

Ruangan seni ini terpisah,berapa satu lantai di atas ruang pameran utama. Oleh karena itu, tiket sejak awal tetap harus dibawa oleh kita, sehingga tiket sebelumnya akan digunakan untuk masuk ke ruangan atas.
Di ruangan ini pengunjung diajak ikut berkreatifitas. Setiap 3 orang akan diberikan satu paket sticker bulat berwarna. Sticker tersebut bebas ditempelkan dimanapun, dan harus habis saat keluar. Kita diperbolehkan bermain dalam waktu 15 menit. Setelah itu boleh masuk kembali, namun antre lagi.



Tebak saya ada dimana hayoooo?

Selain gambar-gambar di atas, karya seni berupa patung, lukisan, dan bentuk-bentuk imajinasi Oma Yayoy masih banyak lagi. Apa mungkin imajinasi beliau menyenangkan yha? Jadi saya merasa happy di sana. Penikmat seni sesungguhnya banyak yang berdiam lama, di depan karya beliau, kemudian maju-mundur untuk merasakan sensasi seninya.





Yuk, untuk yang ingin refreshing otak, bisa ke sini sebelum nanti pameran Oma Yayoy nya diangkut kembali ke Jepang atau negara lain. Dan lokasinya sangat ramah anak lho, juga ada spot lokasi khusus bermain anak.

Monday, March 19, 2018

Ondo-Rante, Jalur yang membuat Deg-degan di Merbabu via Wekas-Selo

05:32 97 Comments

Apa yang terlintas dalam benak kalian bila saya menyebutkan nama gunung "Merbabu"? Indah? Sabana Cantik? atau Super Debu? Ya...ya.. semua itu benar. Akan tetapi satu hal bagi saya untuk menyebut gunung yang satu ini adalah "Rinjani KW Super" (minusnya hanya : ketiadaan danau di Merbabu saja). Kenapa demikian? Ya karena beberapa hal yang dimiliki Rinjani ada di Merbabu. Simak perjalanan tim kami di bawah ini. Secuil kisah yang akan saya torehkan untuk dikenang anak-cucu nanti.

Karekteristik Jalur Wekas



Wekas berada di ketinggian 1650 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kami mengakses daerah ini via terminal Jombor Yogyakarta menggunakan bus besar jurusan Yogyakarta-Semarang hingga ke Terminal Magelang, kemudian melanjutkan bus berukuran kopaja hingga di Gapura Wekas di pinggiran jalan. Melalui pinggiran jalan menuju basecamp Wekas kami menyewa mobil Elf, karena lebih kurang 2-3 km (lumayan bok kalau jalan kaki, menguras tenaga).

Suasana di Basecamp Wekas sangat saya suka, kalau ingin mandi atau bebersih terlebih dahulu, di sini cukup nyaman. Beberapa warung di sekitar basecamp  Wekas menyediakan berbagai jenis perbekalan yang dapat dibawa ke puncak gunung. Biasanya yang sering terlupa oleh saya adalah madu sachet, minuman berperisa cegah sariawan, minuman penambah ion, atau minuman yang dapat diseduh dalam keadaan hangat. Saya lebih memilih makanan cemilan dan minuman yang manis-manis mengandung glukosa saat mendaki karena saya tipikal "makhluk yang makan sedikit, tetapi banyak minum selama di gunung". Hal ini dikarenakan saya kurang suka buang hajat besar di gunung. Biasanya sebelum nanjak saya meng-sugesti pencernaan dan perut saya untuk berkompromi  sejenak hingga turun dari pendakian. Ya! Basecamp adalah tempat terakhir untuk tuntasakan segala hajat sebelum memulai pendakian. Coba deh!

Full Team bersebelas di basecamp Wekas sebelum memulai pendakian


Memulai jalur Wekas adalah memulai pendakian dengan kemiringan yang cukup curam. Menurut saya, awal permulaan pendakiannya saja sudah hampir 90 derajat. Saya merasa bersalah mengajak kawan saya yang melakukan pendakian kedua-nya langsung Merbabu via Wekas. Ini salah sob! Yang selalu saya janjikan pada kawan saya sebelumnya adalah : "Kak, view Merbabu keren! Jalurnya landai, tapi panjang, santai koq kak! Kawanku aja dari SMA mulai dakinya, kakak pasti bisa lah..."

Dan ternyata jalur landai nan panjang yang saya bilang woles itu adalah "Jalur Selo", bukan Jalur Wekas. Maafkan daku kak Diul... Hebatnya lagi dari seluruh anggota tim kami ber-sebelas, semua adalah pendaki pertama melalui jalur Wekas. Ajib!


Kira-kira seperti inilah kondisi jalur Wekas, jalanan cukup terjal. Pada awalnya melewati jalanan rapih yang di-cor dan banyak sekali pipa air. Setelah masuk ke dalam hutan, kami banyak berpapasan dengan penduduk yang mencari ranting kayu bakar. Pepohonan di sini tidak lebat, jarang-jarang, namun pepohonan cukup tinggi. Lumayan adem.


Hutannya cukup indah tipikal hutan tropis yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan diselingi semak belukar yang juga tinggi.  Hingga pos 1 Wekas, kami masih bisa berfoto-foto ala pemain film India. Beberapa tamannya pun cukup bagus.

Kami memulai perjalanan setelah shalat Jum'at, dan tiba di pos 1 sekitar Ashar, dan ternyata kami tiba di pos 2 sekitar pukul jam 8 malam. Kami berjalan dengan kecepatan santai ditambah tragedi dua kawan saya jatuh terkilir.

Saat itu saya menemani kawan perempuan saya yang sudah cukup lelah, hingga akhirnya dia terjatuh. Tidak lama menunggu kawan perempuan saya yang tersandung akar, sweeper kami pun terkilir. Alamak! Ujian banget saya saat itu. Kami tiga orang terakhir dalam kesebelasan kami saat itu. Bimbang dua pilihan :

  1. Meninggalkan sweeper yang kakinya terkilir sambil membopong kawan perempuan yang habis tersandung? atau
  2. Jalan sendiri dan meninggalkan mereka berdua untuk memanggil bantuan kawan rombongan kami yang kemungkinan sudah tiba di Pos 2.
Akhirnya saya memilih membopong kawan perempuan yang tersandung dan lemas,  meninggalkan sweeper yang terkilir. Pertimbangannya, hari sudah mulai gelap, "ya kali eieke memilih jalan seorang diri di saat hari hampir Maghrib? Big No!". Hawa-hawa dingin normal dan tidak normal sudah bercampur-baur, Alhamdulillah masih diberikan rezeki sunset indah di jalur Wekas menuju Pos 2.



Sunset di Jalur Wekas Menuju Pos 2
Setiba di Pos 2, kami menunggu sweeper kami yang dijemput team lainnya. Sehabis itu, kita makan ayam bakar madu di ketinggian.


Saat itu bulan September, Sang Purnama sedang bulat penuh, dan ditemani cuaca yang super cerah. Bercumbu dengan alam sekaligus dengan Sang Pencipta alam semesta kala itu adalah suatu kenikmatan yang tak terkira kami dapatkan. "Maka nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?".



Keesokan paginya, pemandangan Pos 2 Wekas, sangatlah menarik. Tidak berbeda seperti sunset sore sebelumnya, siluet Sindoro-Sumbing lagi-lagi terlihat jelas dan indah.

Dari Pos 2 wekas ini terdengar jelas suara air terjun. Sayangnya, jalur air terjun tidak sejalan dengan tujuan kami menuju Selo, jadi kami cukup puas hanya mendengarkan suara syahdu gemericik air terjun yang terdengar jelas.
Siluet Sindoro-Sumbing dari Pos 2 , Wekas-Merbabu.

Hari ke-2, masih Jalur Wekas- Merbabu, Jembatan Setan

Kalau di hari pertama saya bercerita bahwa kemiringan jalur Wekas yang hampir 90 derajat, dengan diawali jalur dicor, maka di hari ke-dua : Alhamdulillah, jalur semakin curam. Jujur saya semakin ngos-ngosan menelusuri hari kedua ini. Terlebih kami akan melewati jalur yang dinamakan jembatan setan I dan II. Saya tidak tahu persis kenapa namanya agak horor, yang pasti jalur disini sudah tidak ditumbuhi pepohonan nan rindang. Jalur semakin panas dan gersang, bebatuan, dan kanan-kiri jurang (mungkin ini yang dinamakan jembatan setan). Meskipun demikian, di jembatan setan yang kanan kiri berupa jurang, menurut saya jurangnya agak landai (tetapi tetep saja jurang ya? hihi...).

Sebelum sampai kawah dan jembatan setan ini, lagi-lagi saya memilih berjalan bersama sweeper untuk berjaga-jaga. Kejadian kedua yang saya alami dengan 4 orang terakhir adalah kariel logistik yang tiba-tiba terguling masuk jurang. Waktu itu jalanan bertingkat dan bebatuan. Kariel yang terguling tersebut berada di jalur setingkat di atas saya. Kawan saya tidak sadar saat kariel bergerak meluncur ke bawah jurang. Saya yang spontan melihat kariel dan kamera yang akan meluncur jurang, spontan saya tangkap kamera digitalnya saja (kalau saya tangkap kariel logistik khawatir ikut terbawa ke jurang...hihii). 

Sesaat sebelum cariel masuk jurang


Plassh... Pucat pasi-lah kami berlima saling pandang.
Kamera digital tertangkap.
Kariel berisi logistik dan tenda terguling. Glekk.

Segera dua orang sweeper lelaki tersebut mengecek kedalaman jurang. Alhamdulilah, nasib baik berpihak kepada kami. Jurang tersebut memang 90 derajat, namun banyak akar belukar dan ranting, sehingga kariel kami menyangkut dan bisa diselamatkan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju jalur terbuka melewati kawah dan Jembatan Setan.

Sekitar kawah Merbabu
Kalian pasti menebak-nebak apakah gunung Merbabu merupakan gunung berapi atau gunung mati? Ternyata gunung ini merupakan tipikal gunung berapi. Hanya saja diketahui meletus sudah ratusan tahun lalu di tahun 1560 dan 1797 (sumber : wikipedia). Foto di atas, merupakan sisa kawah yang terdahulu sepertinya. Kawah ini saya lewati setelah pos Helipad. Setelah  kawah, kami mulai melewati jembatan setan, setelah itu pertigaan menuju puncak Kenteng Songo dan puncak Syarif.
Jalur Sebelum Jembatan Setan

Nah... Kalian bisa lihat kan? Jalur ini diapit oleh dua lembah yang indah, landai, namun hati-hati, karena kanan-kiri ini sejatinya adalah jurang landai. Kami mulai harus lebih wasapada, meskipun sudah mulai lelah. Jalanan di depan akan lebih mulai mendaki ala-ala spiderman, karena bebatuan semakin merapat dan sempit.
Kira-kira kecuraman di belakang saya (baju orange), seperti itulah yang cukup menguras energi
Sesungguhnya, cukup Wow jalur Merbabu via Wekas. Setelah sampai melalui Jembatan Setan ini, kami tiba di persimpangan. Simpang ke kiri, yang lebih dekat, menuju Puncak Syarif. Persimpangan ke kanan, menuju Puncak Kenteng Songo berjarak sekitar 45-60 menit. Berhubung Puncak Syarif lebih terjangkau, dan hanya sekitar 10-15 menit saja menuju puncaknya, jadilah kami mampir sebentar ke Puncak Syarif.
View negeri di atas awan, Puncak Syarif, Merbabu 3119 mdpl
Setiba di Puncak Syarif, kami bingung. Mau apa ya di puncak? Entah kenapa feel di puncak ini tidak seperti puncak-puncak sebelumnya yang kami tuju. Pertama, kami masih harus menggapai dua puncak di seberang sana yang merupakan puncak utama Gunung Merbabu. Kedua, kami rombongan terakhir yang ada di Puncak Syarif, selebihnya sudah tidak ada rombongan setelah kami, dan hari mulai petang.

Hari mulai petang adalah kebimbangan bagi kami.
Melanjutkan perjalanan di hari yang mulai gelap, dengan seluruh anggota membawa berat beban cariel masing-masing? Ataukah kami berhenti untuk mendirikan tenda? Akan tetapi, memilih bertenda di puncak Syarif merupakan suatu hal yang tidak wajar. Tidak ada penghalang apapun di sini, risiko angin dan badai pun sangat besar. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan melintasi jalur Ondo Rante (yang artinya konon batu yang tersusun).

Melewati Punggungan Ondo Rante

Banyak yang salah menyebut bahwa jalur ini adalah jembatan setan (karena sesungguhnya jalur ini lebih setan dari Jembatan Setan). Okeh sebelum melewati jalur yang ter... (ingin bilang terkutuk tapi khawatir kualat saya), kami mendapatkan keindahan Merbabu yang jarang dinikmati oleh orang normal kebanyakan (ya kali, kami kurang waras memang sepertinya).

Setelah turun dari puncak Syarif, kami melintasi punggungan dan batuan "paling terjal" sepanjang perjalanan lintas Wekas-Selo. Mengapa? Karena kami butuh bantuan ditopang oleh pundak-pundak para lelaki yang bersedia kami injak, karena saking terjalnya. Namun, kami mendapat bonus sunset di jalur curam ini.
Sunset di tepian jalur lintas sebelum jembatan Ondo Rante

Antre turun tebing, di depan jaket hijau, turunannya tegak lurus.
Magrib kala itu, kami bersabar. Menunggu antrean menuruni tebing satu persatu. Tidak boleh gegabah, harus dengan ketelitian. Pasalnya kami membawa cariel yang cukup berat, kedua sudah mulai gelap, ketiga, kami butuh bantuan pundak dan kaki para strongman yang akan kami pijak.
Ini Foto di Siang hari Jalur Ondo Rante (sumber : infopendaki.com)
Foto di atas saya ambil untuk menggambarkan Jembatan Ondo Rante, yang sulit saya deskripsikan, jadi saya mengambil dari sumber lain. Biasanya orang yang melalui jalur Ondo Rante ini tidak membawa cariel. Bisa jadi mereka pendaki yang naik dari  jalur Wekas, dan hanya ingin main sebentar ke Puncak Kenteng Songo, atau sebaliknya mereka pendaki yang melalui jalur Selo dan ingin mengunjungi sebentar Puncak Syarif.


Kalian lihat sendiri bukan? Berjalan melipir tanpa beban saja, harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Bawahnya langsung jurang yang tidak terlihat dasarnya. Bisakah klean bayangkan? Kami bersebelas mlipir punggungan ini gelap-gelapan sambil membawa beban cariel? Jelas! Warbyasak kawan.

Melipirlah kami dengan berhati-hati dan dikomandani Mas Krisna (salah satu dari 4 arjuna yang mengawal 7 srikandi pada pendakian ini).

Mas Kris memberikan aba-aba sambil memberikan bantuan uluran tangan kepada para srikandi ini "Hati-hati ya, licin jalurnya, melipirnya pelan-pelan", kmudian......
"Bruuuukkkk"

Mas Krisna, baru saja berucap hati-hati, namun sepertinya pegangan beliau licin dan terlepas.

Mas Krisna jatuh tengkurap dari ketinggian 3 meter. Diam. Tidak bergerak. Sebagian perempuan yang spontan justru loncat jurang menuju Mas Krisna. Sebagian yang sadar kalau lompat jurang berisiko, memilih bersiaga.

Saya? Termasuk yang sadar jurang di depan. Saya hanya terpaku, dan terdiam dalam doa.

Doa saya yang paling ingin segera terkabul adalah "Mas Krisna, jangan meninggal di sini. Selamatkan Mas Krisna ya Allah", sambil bisa menitikkan air mata dalam kegelapan dan diam, saya menunduk.

Alhamdulillah. Antara doa yang terkabul dan takdir. Mas Krisna menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan dan mulai bergerak. Suasana sudah mulai tidak kondusif harus terus bergerak, namun kami harus lebih ekstra hati-hati, mengingat kami belum tiba pada tujuan.
Setelah melipir, kami menggunakan tali webbing untuk memanjat

Akhirnya kami memutuskan bertenda di Puncak Kenteng Songo
Entah mengapa perjalanan malam itu yang seharusnya hanya cukup ditempuh dalam waktu satu jam, menjadi lebih lama dari biasanya. Setelah naik menggunakan webbing, jalanan menuju puncak Kenteng Songo semakin ganas. Debu berterbangan mengaburkan pengelihatan kami, ditambah dua tim kami terluka Mas Fiyan yang terkilir dan Mas Krisna yang semakin lelah pasca jatuh di tebing Ondo Rante. Malam itu kami mendirikan tenda di puncak Kenteng Songo. Angin super kencang, hawa super dingin, tapi apa mau dikata. Sepanjang malam saya hanya bisa menggigil. Tenda tidak roboh pun sudah Alhamdulillah. Pilihan mendirikan tenda di puncak Kenteng Songo adalah pilihan terbaik bagi kami yang sudah terkuras energi.

Sunrise Puncak Kenteng Songo

Hingga tak terasa, di sekitar tenda kami mulai ramai dan riuh suara pendaki lainnya. Para pendaki dari bawah jalur Selo sudah mulai naik dan bersiap menyambut fajar. Bonus bagi kami, cuaca hari itu cerah, dan mentari dengan anggun sedikit demi sedikit memancarkan kilau jingga keemasannya.





Di Puncak Kenteng Songo inilah kami merasakan indahnya puncak Merbabu yang sesungguhnya.

View di depan tenda kami, langsung menghadap Merapi, yang tak pernah ingkar janji (#eh...)

Ketika Mentari dan Rembulan terlihat bersamaan

Mereka Berfoto pada Puncak Triangulasi
Pemandangan di puncak Merbabu begitu menggemaskan. Pemandangan luas terhampar diselingi lautan kapas tipis-tipis, kita bisa melihat beberapa gunung-gunung kecil di bawahnya. Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, Gunung Andong, dan lagi-lagi idola yang terlalu terlihat siluetnya Gunung Sindoro-Sumbing.

Akan tetapi yang paling mengagumkan adalah melihat kegagahan Gunung Merapi fullscreen dari dekat adalah yang paling mengagumkan. Oh ya, satu puncak lagi di atas puncak Kenteng Songo adalah puncak Triangulasi di ketinggian 3.169 mdpl.

Ada yang sudah berhasil menemukan kesembilan kenteng?
Foto di atas adalah gambar kenteng yang konon berjumlah 9, tetapi saya hanya menemukan 4 buah kenteng yang tersebar selama turun pendakian via jalur Selo.

Jalur Selo, yang landai nan Indah


Turun pendakian melalui jalur Selo, setelah menghadapi jalur Wekas, adalah sebuah kemanjaan yang hQQ. Kami seolah dituntun turun ditemani Sang Gagah Merapi yang sangat ramah, dengan dikelilingi padang rumput sabana kuning kehijauan.



Kapas-kapas tipis ini, sungguh membuat saya enggan beranjak dari spot ini.

Sabana di Selo, sangat mengingatkan kerinduan pada Rinjani
Yup, di spot inilah saya merasakan keindahan Merbabu tidak kalah dengan Rinjani. Bahkan sabana di sini lebih luas untuk dipijak dan dipakai untuk bertenda. Rasa Rinjani KW-Super komplit sudah, jalur yang cukup mendebarkan, perjalanan melintasi dua puncak (Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo) dengan membawa-bawa cariel, ditambah bonus cantik sabana super luas yang dapat dipijak.

Diakhiri dengan debu melimpah Jalur Selo

Kami pikir, sudah selesai perjuangan dengan jalur yang menguras energi. Ternyata, masih tersisa satu jalur lagi, yakni jalur berdebu. Debu di jalur Selo menurut saya cukup parah, karena butirannya sangat halus dan partikelnya sangat ringan. Hal ini menyebabkan siapapun yang berjalan, dipastikan debu beterbangan. Di sinilah kekuatan kami diuji kembali. Siapapun yang berjalan harus berhati-hati. Namun, saya sangat menikmatinya. Ada sedikit tips jika kalian sudah mulai jenuh dan bosan dengan jalur. Tipsnya adalah berjalanlah dengan zig-zag. Meskipun terkesan lebih jauh, dengan berjalan zig-zag dapat mebuat pikiran kita tidak jenuh, dan tetap semangat melalui jalur yang mulai melelahkan.





Kapten, sang penyemangat.
Mas Fiyan dan Mas Krisna yang mengalami cedera, namun tetap berhasil menyelesaikan pendakian dengan tabah.
Yeay! Lagi-lagi saya the last three. Bersama Mas Fiyan dan Mas Krisna di akhir jalur pendakian Selo. Mereka dua orang yang mengalami cedera, namun tetap kuat dan tabah untuk terus melanjutkan perjalanan. Sungguh pendakian Merbabu saya kali ini sangat sulit terlupakan. Medan yang berat, ditambah adanya anggota team kami yang cedera merupakan suatu cobaan, yang jika dihadapi dengan bersama, cobaan tersebut terasa lebih ringan.

Jadi gaes... Jika kamu ingin mencoba jalur-jalur di atas, pastikan, mendakilah saat cuaca bagus. Bayangkan cuaca bagus saja, kami harus konsentrasi terhadap jalur. Jika ditambah cuaca buruk, dipastikan konsentrasi dan energi yang dibutuhkan harus lebih ekstra dan berlipat. Kecuali, kamu memang memiliki jiwa petarung yang tinggi. Bertarung dengan keputus-asaan diri sendiri... #haishh