Follow me @ndarikhaa

Monday, March 19, 2018

Ondo-Rante, Jalur yang membuat Deg-degan di Merbabu via Wekas-Selo

05:32 97 Comments

Apa yang terlintas dalam benak kalian bila saya menyebutkan nama gunung "Merbabu"? Indah? Sabana Cantik? atau Super Debu? Ya...ya.. semua itu benar. Akan tetapi satu hal bagi saya untuk menyebut gunung yang satu ini adalah "Rinjani KW Super" (minusnya hanya : ketiadaan danau di Merbabu saja). Kenapa demikian? Ya karena beberapa hal yang dimiliki Rinjani ada di Merbabu. Simak perjalanan tim kami di bawah ini. Secuil kisah yang akan saya torehkan untuk dikenang anak-cucu nanti.

Karekteristik Jalur Wekas



Wekas berada di ketinggian 1650 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kami mengakses daerah ini via terminal Jombor Yogyakarta menggunakan bus besar jurusan Yogyakarta-Semarang hingga ke Terminal Magelang, kemudian melanjutkan bus berukuran kopaja hingga di Gapura Wekas di pinggiran jalan. Melalui pinggiran jalan menuju basecamp Wekas kami menyewa mobil Elf, karena lebih kurang 2-3 km (lumayan bok kalau jalan kaki, menguras tenaga).

Suasana di Basecamp Wekas sangat saya suka, kalau ingin mandi atau bebersih terlebih dahulu, di sini cukup nyaman. Beberapa warung di sekitar basecamp  Wekas menyediakan berbagai jenis perbekalan yang dapat dibawa ke puncak gunung. Biasanya yang sering terlupa oleh saya adalah madu sachet, minuman berperisa cegah sariawan, minuman penambah ion, atau minuman yang dapat diseduh dalam keadaan hangat. Saya lebih memilih makanan cemilan dan minuman yang manis-manis mengandung glukosa saat mendaki karena saya tipikal "makhluk yang makan sedikit, tetapi banyak minum selama di gunung". Hal ini dikarenakan saya kurang suka buang hajat besar di gunung. Biasanya sebelum nanjak saya meng-sugesti pencernaan dan perut saya untuk berkompromi  sejenak hingga turun dari pendakian. Ya! Basecamp adalah tempat terakhir untuk tuntasakan segala hajat sebelum memulai pendakian. Coba deh!

Full Team bersebelas di basecamp Wekas sebelum memulai pendakian


Memulai jalur Wekas adalah memulai pendakian dengan kemiringan yang cukup curam. Menurut saya, awal permulaan pendakiannya saja sudah hampir 90 derajat. Saya merasa bersalah mengajak kawan saya yang melakukan pendakian kedua-nya langsung Merbabu via Wekas. Ini salah sob! Yang selalu saya janjikan pada kawan saya sebelumnya adalah : "Kak, view Merbabu keren! Jalurnya landai, tapi panjang, santai koq kak! Kawanku aja dari SMA mulai dakinya, kakak pasti bisa lah..."

Dan ternyata jalur landai nan panjang yang saya bilang woles itu adalah "Jalur Selo", bukan Jalur Wekas. Maafkan daku kak Diul... Hebatnya lagi dari seluruh anggota tim kami ber-sebelas, semua adalah pendaki pertama melalui jalur Wekas. Ajib!


Kira-kira seperti inilah kondisi jalur Wekas, jalanan cukup terjal. Pada awalnya melewati jalanan rapih yang di-cor dan banyak sekali pipa air. Setelah masuk ke dalam hutan, kami banyak berpapasan dengan penduduk yang mencari ranting kayu bakar. Pepohonan di sini tidak lebat, jarang-jarang, namun pepohonan cukup tinggi. Lumayan adem.


Hutannya cukup indah tipikal hutan tropis yang ditumbuhi pepohonan tinggi dan diselingi semak belukar yang juga tinggi.  Hingga pos 1 Wekas, kami masih bisa berfoto-foto ala pemain film India. Beberapa tamannya pun cukup bagus.

Kami memulai perjalanan setelah shalat Jum'at, dan tiba di pos 1 sekitar Ashar, dan ternyata kami tiba di pos 2 sekitar pukul jam 8 malam. Kami berjalan dengan kecepatan santai ditambah tragedi dua kawan saya jatuh terkilir.

Saat itu saya menemani kawan perempuan saya yang sudah cukup lelah, hingga akhirnya dia terjatuh. Tidak lama menunggu kawan perempuan saya yang tersandung akar, sweeper kami pun terkilir. Alamak! Ujian banget saya saat itu. Kami tiga orang terakhir dalam kesebelasan kami saat itu. Bimbang dua pilihan :

  1. Meninggalkan sweeper yang kakinya terkilir sambil membopong kawan perempuan yang habis tersandung? atau
  2. Jalan sendiri dan meninggalkan mereka berdua untuk memanggil bantuan kawan rombongan kami yang kemungkinan sudah tiba di Pos 2.
Akhirnya saya memilih membopong kawan perempuan yang tersandung dan lemas,  meninggalkan sweeper yang terkilir. Pertimbangannya, hari sudah mulai gelap, "ya kali eieke memilih jalan seorang diri di saat hari hampir Maghrib? Big No!". Hawa-hawa dingin normal dan tidak normal sudah bercampur-baur, Alhamdulillah masih diberikan rezeki sunset indah di jalur Wekas menuju Pos 2.



Sunset di Jalur Wekas Menuju Pos 2
Setiba di Pos 2, kami menunggu sweeper kami yang dijemput team lainnya. Sehabis itu, kita makan ayam bakar madu di ketinggian.


Saat itu bulan September, Sang Purnama sedang bulat penuh, dan ditemani cuaca yang super cerah. Bercumbu dengan alam sekaligus dengan Sang Pencipta alam semesta kala itu adalah suatu kenikmatan yang tak terkira kami dapatkan. "Maka nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?".



Keesokan paginya, pemandangan Pos 2 Wekas, sangatlah menarik. Tidak berbeda seperti sunset sore sebelumnya, siluet Sindoro-Sumbing lagi-lagi terlihat jelas dan indah.

Dari Pos 2 wekas ini terdengar jelas suara air terjun. Sayangnya, jalur air terjun tidak sejalan dengan tujuan kami menuju Selo, jadi kami cukup puas hanya mendengarkan suara syahdu gemericik air terjun yang terdengar jelas.
Siluet Sindoro-Sumbing dari Pos 2 , Wekas-Merbabu.

Hari ke-2, masih Jalur Wekas- Merbabu, Jembatan Setan

Kalau di hari pertama saya bercerita bahwa kemiringan jalur Wekas yang hampir 90 derajat, dengan diawali jalur dicor, maka di hari ke-dua : Alhamdulillah, jalur semakin curam. Jujur saya semakin ngos-ngosan menelusuri hari kedua ini. Terlebih kami akan melewati jalur yang dinamakan jembatan setan I dan II. Saya tidak tahu persis kenapa namanya agak horor, yang pasti jalur disini sudah tidak ditumbuhi pepohonan nan rindang. Jalur semakin panas dan gersang, bebatuan, dan kanan-kiri jurang (mungkin ini yang dinamakan jembatan setan). Meskipun demikian, di jembatan setan yang kanan kiri berupa jurang, menurut saya jurangnya agak landai (tetapi tetep saja jurang ya? hihi...).

Sebelum sampai kawah dan jembatan setan ini, lagi-lagi saya memilih berjalan bersama sweeper untuk berjaga-jaga. Kejadian kedua yang saya alami dengan 4 orang terakhir adalah kariel logistik yang tiba-tiba terguling masuk jurang. Waktu itu jalanan bertingkat dan bebatuan. Kariel yang terguling tersebut berada di jalur setingkat di atas saya. Kawan saya tidak sadar saat kariel bergerak meluncur ke bawah jurang. Saya yang spontan melihat kariel dan kamera yang akan meluncur jurang, spontan saya tangkap kamera digitalnya saja (kalau saya tangkap kariel logistik khawatir ikut terbawa ke jurang...hihii). 

Sesaat sebelum cariel masuk jurang


Plassh... Pucat pasi-lah kami berlima saling pandang.
Kamera digital tertangkap.
Kariel berisi logistik dan tenda terguling. Glekk.

Segera dua orang sweeper lelaki tersebut mengecek kedalaman jurang. Alhamdulilah, nasib baik berpihak kepada kami. Jurang tersebut memang 90 derajat, namun banyak akar belukar dan ranting, sehingga kariel kami menyangkut dan bisa diselamatkan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju jalur terbuka melewati kawah dan Jembatan Setan.

Sekitar kawah Merbabu
Kalian pasti menebak-nebak apakah gunung Merbabu merupakan gunung berapi atau gunung mati? Ternyata gunung ini merupakan tipikal gunung berapi. Hanya saja diketahui meletus sudah ratusan tahun lalu di tahun 1560 dan 1797 (sumber : wikipedia). Foto di atas, merupakan sisa kawah yang terdahulu sepertinya. Kawah ini saya lewati setelah pos Helipad. Setelah  kawah, kami mulai melewati jembatan setan, setelah itu pertigaan menuju puncak Kenteng Songo dan puncak Syarif.
Jalur Sebelum Jembatan Setan

Nah... Kalian bisa lihat kan? Jalur ini diapit oleh dua lembah yang indah, landai, namun hati-hati, karena kanan-kiri ini sejatinya adalah jurang landai. Kami mulai harus lebih wasapada, meskipun sudah mulai lelah. Jalanan di depan akan lebih mulai mendaki ala-ala spiderman, karena bebatuan semakin merapat dan sempit.
Kira-kira kecuraman di belakang saya (baju orange), seperti itulah yang cukup menguras energi
Sesungguhnya, cukup Wow jalur Merbabu via Wekas. Setelah sampai melalui Jembatan Setan ini, kami tiba di persimpangan. Simpang ke kiri, yang lebih dekat, menuju Puncak Syarif. Persimpangan ke kanan, menuju Puncak Kenteng Songo berjarak sekitar 45-60 menit. Berhubung Puncak Syarif lebih terjangkau, dan hanya sekitar 10-15 menit saja menuju puncaknya, jadilah kami mampir sebentar ke Puncak Syarif.
View negeri di atas awan, Puncak Syarif, Merbabu 3119 mdpl
Setiba di Puncak Syarif, kami bingung. Mau apa ya di puncak? Entah kenapa feel di puncak ini tidak seperti puncak-puncak sebelumnya yang kami tuju. Pertama, kami masih harus menggapai dua puncak di seberang sana yang merupakan puncak utama Gunung Merbabu. Kedua, kami rombongan terakhir yang ada di Puncak Syarif, selebihnya sudah tidak ada rombongan setelah kami, dan hari mulai petang.

Hari mulai petang adalah kebimbangan bagi kami.
Melanjutkan perjalanan di hari yang mulai gelap, dengan seluruh anggota membawa berat beban cariel masing-masing? Ataukah kami berhenti untuk mendirikan tenda? Akan tetapi, memilih bertenda di puncak Syarif merupakan suatu hal yang tidak wajar. Tidak ada penghalang apapun di sini, risiko angin dan badai pun sangat besar. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan melintasi jalur Ondo Rante (yang artinya konon batu yang tersusun).

Melewati Punggungan Ondo Rante

Banyak yang salah menyebut bahwa jalur ini adalah jembatan setan (karena sesungguhnya jalur ini lebih setan dari Jembatan Setan). Okeh sebelum melewati jalur yang ter... (ingin bilang terkutuk tapi khawatir kualat saya), kami mendapatkan keindahan Merbabu yang jarang dinikmati oleh orang normal kebanyakan (ya kali, kami kurang waras memang sepertinya).

Setelah turun dari puncak Syarif, kami melintasi punggungan dan batuan "paling terjal" sepanjang perjalanan lintas Wekas-Selo. Mengapa? Karena kami butuh bantuan ditopang oleh pundak-pundak para lelaki yang bersedia kami injak, karena saking terjalnya. Namun, kami mendapat bonus sunset di jalur curam ini.
Sunset di tepian jalur lintas sebelum jembatan Ondo Rante

Antre turun tebing, di depan jaket hijau, turunannya tegak lurus.
Magrib kala itu, kami bersabar. Menunggu antrean menuruni tebing satu persatu. Tidak boleh gegabah, harus dengan ketelitian. Pasalnya kami membawa cariel yang cukup berat, kedua sudah mulai gelap, ketiga, kami butuh bantuan pundak dan kaki para strongman yang akan kami pijak.
Ini Foto di Siang hari Jalur Ondo Rante (sumber : infopendaki.com)
Foto di atas saya ambil untuk menggambarkan Jembatan Ondo Rante, yang sulit saya deskripsikan, jadi saya mengambil dari sumber lain. Biasanya orang yang melalui jalur Ondo Rante ini tidak membawa cariel. Bisa jadi mereka pendaki yang naik dari  jalur Wekas, dan hanya ingin main sebentar ke Puncak Kenteng Songo, atau sebaliknya mereka pendaki yang melalui jalur Selo dan ingin mengunjungi sebentar Puncak Syarif.


Kalian lihat sendiri bukan? Berjalan melipir tanpa beban saja, harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Bawahnya langsung jurang yang tidak terlihat dasarnya. Bisakah klean bayangkan? Kami bersebelas mlipir punggungan ini gelap-gelapan sambil membawa beban cariel? Jelas! Warbyasak kawan.

Melipirlah kami dengan berhati-hati dan dikomandani Mas Krisna (salah satu dari 4 arjuna yang mengawal 7 srikandi pada pendakian ini).

Mas Kris memberikan aba-aba sambil memberikan bantuan uluran tangan kepada para srikandi ini "Hati-hati ya, licin jalurnya, melipirnya pelan-pelan", kmudian......
"Bruuuukkkk"

Mas Krisna, baru saja berucap hati-hati, namun sepertinya pegangan beliau licin dan terlepas.

Mas Krisna jatuh tengkurap dari ketinggian 3 meter. Diam. Tidak bergerak. Sebagian perempuan yang spontan justru loncat jurang menuju Mas Krisna. Sebagian yang sadar kalau lompat jurang berisiko, memilih bersiaga.

Saya? Termasuk yang sadar jurang di depan. Saya hanya terpaku, dan terdiam dalam doa.

Doa saya yang paling ingin segera terkabul adalah "Mas Krisna, jangan meninggal di sini. Selamatkan Mas Krisna ya Allah", sambil bisa menitikkan air mata dalam kegelapan dan diam, saya menunduk.

Alhamdulillah. Antara doa yang terkabul dan takdir. Mas Krisna menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan dan mulai bergerak. Suasana sudah mulai tidak kondusif harus terus bergerak, namun kami harus lebih ekstra hati-hati, mengingat kami belum tiba pada tujuan.
Setelah melipir, kami menggunakan tali webbing untuk memanjat

Akhirnya kami memutuskan bertenda di Puncak Kenteng Songo
Entah mengapa perjalanan malam itu yang seharusnya hanya cukup ditempuh dalam waktu satu jam, menjadi lebih lama dari biasanya. Setelah naik menggunakan webbing, jalanan menuju puncak Kenteng Songo semakin ganas. Debu berterbangan mengaburkan pengelihatan kami, ditambah dua tim kami terluka Mas Fiyan yang terkilir dan Mas Krisna yang semakin lelah pasca jatuh di tebing Ondo Rante. Malam itu kami mendirikan tenda di puncak Kenteng Songo. Angin super kencang, hawa super dingin, tapi apa mau dikata. Sepanjang malam saya hanya bisa menggigil. Tenda tidak roboh pun sudah Alhamdulillah. Pilihan mendirikan tenda di puncak Kenteng Songo adalah pilihan terbaik bagi kami yang sudah terkuras energi.

Sunrise Puncak Kenteng Songo

Hingga tak terasa, di sekitar tenda kami mulai ramai dan riuh suara pendaki lainnya. Para pendaki dari bawah jalur Selo sudah mulai naik dan bersiap menyambut fajar. Bonus bagi kami, cuaca hari itu cerah, dan mentari dengan anggun sedikit demi sedikit memancarkan kilau jingga keemasannya.





Di Puncak Kenteng Songo inilah kami merasakan indahnya puncak Merbabu yang sesungguhnya.

View di depan tenda kami, langsung menghadap Merapi, yang tak pernah ingkar janji (#eh...)

Ketika Mentari dan Rembulan terlihat bersamaan

Mereka Berfoto pada Puncak Triangulasi
Pemandangan di puncak Merbabu begitu menggemaskan. Pemandangan luas terhampar diselingi lautan kapas tipis-tipis, kita bisa melihat beberapa gunung-gunung kecil di bawahnya. Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, Gunung Andong, dan lagi-lagi idola yang terlalu terlihat siluetnya Gunung Sindoro-Sumbing.

Akan tetapi yang paling mengagumkan adalah melihat kegagahan Gunung Merapi fullscreen dari dekat adalah yang paling mengagumkan. Oh ya, satu puncak lagi di atas puncak Kenteng Songo adalah puncak Triangulasi di ketinggian 3.169 mdpl.

Ada yang sudah berhasil menemukan kesembilan kenteng?
Foto di atas adalah gambar kenteng yang konon berjumlah 9, tetapi saya hanya menemukan 4 buah kenteng yang tersebar selama turun pendakian via jalur Selo.

Jalur Selo, yang landai nan Indah


Turun pendakian melalui jalur Selo, setelah menghadapi jalur Wekas, adalah sebuah kemanjaan yang hQQ. Kami seolah dituntun turun ditemani Sang Gagah Merapi yang sangat ramah, dengan dikelilingi padang rumput sabana kuning kehijauan.



Kapas-kapas tipis ini, sungguh membuat saya enggan beranjak dari spot ini.

Sabana di Selo, sangat mengingatkan kerinduan pada Rinjani
Yup, di spot inilah saya merasakan keindahan Merbabu tidak kalah dengan Rinjani. Bahkan sabana di sini lebih luas untuk dipijak dan dipakai untuk bertenda. Rasa Rinjani KW-Super komplit sudah, jalur yang cukup mendebarkan, perjalanan melintasi dua puncak (Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo) dengan membawa-bawa cariel, ditambah bonus cantik sabana super luas yang dapat dipijak.

Diakhiri dengan debu melimpah Jalur Selo

Kami pikir, sudah selesai perjuangan dengan jalur yang menguras energi. Ternyata, masih tersisa satu jalur lagi, yakni jalur berdebu. Debu di jalur Selo menurut saya cukup parah, karena butirannya sangat halus dan partikelnya sangat ringan. Hal ini menyebabkan siapapun yang berjalan, dipastikan debu beterbangan. Di sinilah kekuatan kami diuji kembali. Siapapun yang berjalan harus berhati-hati. Namun, saya sangat menikmatinya. Ada sedikit tips jika kalian sudah mulai jenuh dan bosan dengan jalur. Tipsnya adalah berjalanlah dengan zig-zag. Meskipun terkesan lebih jauh, dengan berjalan zig-zag dapat mebuat pikiran kita tidak jenuh, dan tetap semangat melalui jalur yang mulai melelahkan.





Kapten, sang penyemangat.
Mas Fiyan dan Mas Krisna yang mengalami cedera, namun tetap berhasil menyelesaikan pendakian dengan tabah.
Yeay! Lagi-lagi saya the last three. Bersama Mas Fiyan dan Mas Krisna di akhir jalur pendakian Selo. Mereka dua orang yang mengalami cedera, namun tetap kuat dan tabah untuk terus melanjutkan perjalanan. Sungguh pendakian Merbabu saya kali ini sangat sulit terlupakan. Medan yang berat, ditambah adanya anggota team kami yang cedera merupakan suatu cobaan, yang jika dihadapi dengan bersama, cobaan tersebut terasa lebih ringan.

Jadi gaes... Jika kamu ingin mencoba jalur-jalur di atas, pastikan, mendakilah saat cuaca bagus. Bayangkan cuaca bagus saja, kami harus konsentrasi terhadap jalur. Jika ditambah cuaca buruk, dipastikan konsentrasi dan energi yang dibutuhkan harus lebih ekstra dan berlipat. Kecuali, kamu memang memiliki jiwa petarung yang tinggi. Bertarung dengan keputus-asaan diri sendiri... #haishh 



Monday, March 5, 2018

WhatsApp Group Kemudahan atau Cobaan?

13:44 73 Comments
Sumber : pexels.com


Adakah diantara kalian yang tidak menggunakan aplikasi WhatsApp (WA) di handphone nya? Dipastikan kamu pasti sedang menghindari sesuatu. Ya, fix sesuatu. Entah menghindari mantan, kerjaan, atau cobaan hidup. Jadi saya ingin share pengalaman pribadi saya belakangan ini terkait aplikasi WhatsApp ini. 

Awalnya kemudahan teknologi

Saya termasuk orang pendahulu pengguna WhatsApp , dikarenakan 5-6 tahun silam kebanyakan orang masih menggunakan balckberry (BB), sedangkan saya android sejati. Saat orang heboh dengan group BlackBerry Mesanger (BBM) dan lain-lain dan saya sering ketinggalan info karena tidak minat menggunakan  BB, ya saya cuek sajalah, nanti juga ada yang menyampaikan info.

Ketika akhirnya muncul aplikasi WhatsApp, saat itu sayang senang sekali. Sayangnya, ternyata masih sedikit penggunanya, terlebih lagi saudara-saudara pun masih menggunakan BB. Kawan kampus, kawan kantor, semua masih menggunakan BBM. But I'm very happy using WA. Saya bisa ganti-ganti Profile Picture (PP) dalam hitungan detik, sesuai mood, sesuai selera, gaya alay? gaya jaim? gaya formal? Pokoknya suka-suka saya lah. Hingga akhirnya BB tergerus jaman oleh android, dan sekarang hampir 100% pengguna android dipastikan menginstall aplikasi WA sebagai alat komunikasi.

WA semakin mudah, semakin mengupdate feature-feature yang menjadi kebutuhan penggunanya. Hijrah komunikasi besar-besaran pun berlangsung. Group yang dahulunya banyak menggunakan milis di e-mail group, kini sepakat untuk bermufakat menjadi WA-group.

Sharing dokumen yang dahulu melalui bluetooth, kabel data, email, USB/flashdisk, sekarang pun dalam hitungan detik sudah berpindah antar handphone.

Video jarak jauh yang dahulu dengan sulitnya memiliki akun-akun aplikasi tertentu, sehingga untuk video call  dengan orang tercinta pun harus sama-sama memiliki aplikasi/alat/media agar terhubung. Sekarang WA pun bisa!

Telepon antar benua, yang dahulu mahal, butuh biaya, sekarang WA juga bisa. Jernih lagi! Curhat antar benua tiap malam pun bisa dilakukan.

Membintangi berita atau info penting, karena malas atau tidak sempat memindahkan ke media lain, juga sudah mudah difasilitasi WA.

Tautan media massa yang dengan mudah memberikan izin sharing melalui WA juga banyak.

Ingin curhat dalam bentuk tulisan/gambar/video pun sekarang bisa! Ahhh... apalah ini WA dalam genggaman.

Kau mempermudah hari-hari kami WA.
Hingga akhirnya semua berubah...

Ketika Kemudahan Menjadi Tantangan

Sekarang karena semua kemudahan tersebut, tidak ada lagi alasan untuk tidak tahu dunia ini sahabat!


Ketinggalam info dari kantor atau bos? Jawabannya : "Kan ada di WA group".

Tidak mendapat kelompok saat sekali gak masuk kelas? Jawabannya  : "Kan ada di WA group".

Salah kostum dateng ke party ? Jawabannya  : "Kan ada di WA group".

Salah masuk restoran saat buka bersama karena info selalu berubah, sedangkan kamu kan mengendarai moda transportasi. Jawabannya  : "Kan ada di WA group".

Telat mengerjakan arisan Kubbu. Jawabannya  : "Kan ada di WA group" (eh curhat).

Nah.. kebanyakan group inilah yang membuat saya sering skimming (baca cepat) WA-chats yang tertunda. Hasilnya? Gak efektif! Info tidak terekam otak, tetapi setidaknya perasan tidak bersalah karena telah mengapresiasi sebagian chat dan informasi di WA yang terlihat pandangan mata lebih lama (karena sebagaimana kita ingin dihargai, wajar kan kalau kita pun menghargai chat orang lain?).

Eh...makin kesini, saya butuh psikolog rasa-rasanya setelah WA group kampus beranak pinak, satu kelas pasti ada group besar, dimana terdapat kelompok kecil, dan dalam satu mata kuliah terdapat satu group formal (dimana ada dosen yang bersangkutan), dan group informal (isinya tanpa dosen sehingga bisa bebas bersuara). Penjelasan sebalumnya ini baru satu mata kuliah lho... Coba dikalikan jumlah mata kuliah yang diambil dalam satu semester, ditambah group beasiswa yang infonya seabrek,group peminatan, group alumni peminatan, group organisasi, dan satu lagi group sesama bidang organisasi di kampus... (haishhh matek lah kau!). 

Ini laksana buah simalakama bangeut gak sih? Dibuka langsung keteteran dan membuat tidak fokus, tidak dibuka alamat tertinggal informasi.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk meng-UNINSTALL sementara aplikasi WA. Sebelumnya saya sudah melalui proses mute group, ubah settingan tidak ada suara notifikasi WA, ubah settingan tidak ada pop up WA, hingga hiden pemberitahuan kalau ada WA masuk sehingga baru ketahuan kalau WA saya membuka aplikasinya.

Tebak berapa lama saya bertahan? Hanya 11 jam itupun pukul  22.00 (karena mau tidur) dan atas kebutuhan dan keinginan sendiri install kembali pukul 09.00 pagi berikutnya. 

Sebab, saya merasa underpressure jika tidak melihat info di group. Apakah ini termasuk gangguan jiwa? Sampai akhirnya saya ikuti saran kawan saya agar saya tidak memperberat beban psikologis saya. Semua group saya "mark as read", setelah itu saya merasa... Happy.

Hanya tidak lebih dari lima group yang saya baca, group keluarga, KUBBU, jurusan, dan group rumpi (yang bikin bahagia) selebihnya, mending japri (personal chat) kawan saja.

Adakah kalian yang mengalami hal yang sama? *rempongnya hidupku.





Saturday, February 3, 2018

Brownies Coklat Leleh yang Melted Abis : Brownies Cinta

23:52 4 Comments


Kalian pernah mendengar asal mulanya brownies? Yup! Kue yang konon tercipta dari sebuah kegagalan dalam memberikan salah satu bahannya ini, justeru menjelma menjadi resep baru yang menurut saya, ehmmmm enak luar biasa.

Sebagai pecinta cokelat, saya sangat senang dengan rasa brownies. Cokelatnya begitu terasa jelas di lidah, serta adonan yang khas. Jadi waktu itu saya sedang mengobrol dengan kawan blogger. Dia menanyakan apakah alamat rumah saya dekat dengan lokasi "Brownies Cinta & Cake" cabang Bekasi? 

Jujur saya jadi penasaran. Ternyata lokasi Brownies Cinta yang dimaksud adalah yang berlokasi di Jl. Taman Narogong Indah Raya No.56, Rawalumbu , Bekasi. Wah lumayan dekat. Sayangnya, saya belum ada rencana untuk pergi ke arah sana. Iseng membuka aplikasi transportasi online, ternyata saya menemukan toko ini. Langsung saya pesan Brownies Coklat Leleh Almond. Kurang dari satu jam, brownies pun tiba.



Saat saya hirup, duh aromanya bikin perut keroncongan, dan ketika kardusnya dibuka, wow meleh lah semua cokelat di atas brownies, lebih melting (meleleh) dari gombalan Dilan. Satu gigitan, bikin saya susah berhenti, mau lagi, lagi, dan lagi. Teksturnya halus, atasnya sedikit renyah, dan taburan almond yang makin melengkapi. Duh, nyesel beli satu! Seriusan!

Ternyata varian rasa untuk pecinta cokelat juga bisa dicoba Brownies Red Velvet Cokelat Leleh, Coklat Leleh Kacang, Kombinasi Cokelat Keju, Cokelat Leleh Keju, Cokelat Leleh Mede, Coklat Leleh Oreo, Coklat Leleh Crispy,  dan Chocomaltine.

Bagi yang kurang suka cokelat, toko kue Brownies Cinta memiliki banyak kreasi rasa yang patut dicoba seperti Blueberry Kombinasi, Green Tea, Green Tea Almond, Tiramisu, Green Tea Keju, Keju Parut, Pandan, Lapis Talas, Red Velvet Tiramissu, Red Velvet Original, Red Velvet Cheese, Stawbery, Durian, Capucino, dan Alpukat.

Selain brownies juga terdapat menu Banana Cake Original, Banana Cake Coklat Leleh, Cup Cake, Cheese Cake, Japanese Cheese Cake dan Banana Cake Chocomaltine.




Cus ah! Bisa langsung dicoba. Karena kemasannya cantik dan praktis, bisa dibawa kemana saja. Kalaupun untuk tentengan kalau ke rumah doi tercinta juga sangat cocok. Nemenin cemilan kalau lagi nongkrong? Oke juga. Nemenin belajar sambil ngemil brownies pun, ah bisa banget! 

Kalau lagi jalan ke Solo, ternyata cabang utama Brownies Cinta & Cake ini ada di Kota Sejuta Kuliner tersebut. Outlet terdekat juga ada di Karang Anyar, Sragen, Tawangmangu dan Sukoharjo.

Sangat direkomendasikan Brownies Cinta ini sebagai buah tangan untuk bahagiakan orang tercinta.

Friday, January 26, 2018

Gara-gara Citra : Khayalan Menjejakkan Kaki di Jejak Kerajaan Majapahit-Trowulan Menjadi Nyata

22:37 70 Comments

Pose terbaik di salah satu keindahan candi peninggalan Majapahit di Trowulan.

Setelah teringat saat merapihkan file foto saat liburan perkuliahan ini. Ada begitu banyak foto indah saat pelesiran ke Trowulan yang belum saya posting, maka saya putuskan untuk menuliskan secuil kisah perjalanan saya hingga sampai ke Bumi Wilwatikta. Semoga tidak bosan ya, karena saya berencana menuliskan paket lengkap asal-muasal perjalanan ini.

Friday, September 8, 2017

Mendampingi Tim Nusantara Sehat Batch 6 ke Mentawai

23:49 44 Comments
 
 
Suatu pengamalan yang luar biasa saat diberi kesempatan dapat mendampingi adik-adik yang megemban misi kemanusiaan yang mulia ini. Saya melihat langsung semangat muda-mudi serta serta menjejakkan kaki hingga ke kepulauan terujung di Provinsi Sumatera Barat, Kep. Mentawai.

Tuesday, February 14, 2017

Ketika Paspor Hampir Kadaluarsa (Expired)

07:34 49 Comments
Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya tentang masa berlaku paspor yang sudah akan kadaluarsa/ expired.

 
Bagi kalian yang sudah terbiasa ke luar negeri dan sudah sering memperpanjang paspor, pasti sudah tau rambu-rambu nya, sudah terbiasa dengan aturan yang berlaku juga.

Nah untuk yang belum pernah memperpanjang sama sekali, bisa berkaca dengan pengalaman eror saya yang tidak perlu ditiru di bawah ini.. Check it out..

Sunday, November 13, 2016

Sabda Palon VS Obat Perawatan Jerawat

19:36 0 Comments


Paket Cream Jerawat VS Sabda Palon



Langit tanpa taburan bintang di langit memang lebih indah
Tapi

Apakah wajah dengan taburan jerawat akan lebih indah?

Awalnya saya mah peduli amat yah?
Karena menurut saya pancaran hati dan inner beauty/handsome itu lebih PENTING
Ditambah kecerdasan wawasan. Thats it! Enough! Cukup!
Tapi kalau bawa-bawa nama kesehatan, ih koq jadi malu sendiri lah yah..

Situ kerja di ranah kesehatan, koq merawat kulit wajah sendiri gak bisa sehat?