Follow me @ndarikhaa

Monday, July 29, 2019

Keindahan Rinjani via Jalur Torean Selalu Terukir di Hati

20:22 63 Comments
Hamparan bukit di Torean (dok. pribadi)


Kalau ditanya gunung apa yang paling berkesan bagi saya? Jawaban saya masih sama : Rinjani. Kenapa? Karena dari seluruh poin yang saya inginkan dan saya mau kunjungi jika saya mendaki ada di Rinjani. 

Saya suka sabana, ada. Saya suka suasana pedesaan, ada di Rinjani. Saya suka gunung dengan lekukan kontur hijau seperti Gunung Batok di Bromo, ada juga di Rinjani, justeru lebih banyak. Gunung dengan air terjun sekaligus pemandian air panas? Ada di Rinjani. Hewan gembala tak bertuan? Ada di Rinjani. Gunung cantik tapi butuh adrenalin panjat-memanjat seperti Gunung Raung? Ada di Rinjani. Gunung dengan danau di ketinggian? Ada donk! Spot foto cantik, ajib, atau menantang? Pastinya deh gak perlu ditanya lagi. Cus lah kudu ke Rinjani! Eits tapi sebelumnya, boleh disimak pendakian kedua saya ke Rinjani melalui Torean ini ya. Ke-dua? Iya donk ke-dua, kalau Rinjani tak semempesona itu, bakal banyak pertimbangan untuk balik ke sana lagi. Cuss lah….

CARA MENUJU TOREAN

Terkadang untuk mengambil langkah serius diperlukan kenekatan dan spontanitas yang kokoh agar kita tidak ragu dalam mengambil keputusan itu sendiri (#hazekh).  Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau terlalu banyak dipikirkan, alhasil rencana yang kita pikirkan, bisa jadi tidak terlaksana karena terlalu banyak menimbang sisi baik buruknya. Berbeda dengan rencana spontan yang kami ambil ini, tepat Juli setahun lalu, kami bertiga chit-chat di kereta, mengulas keseruan perjalanan kami di Raung tahun sebelumnya. Hingga tercetus…

“Wah libur kerja gue tinggal setahun lagi nih, seru kali nih Rinjani via Torean.”, gurauan saya kala itu di KRL.

Gayung pun bersambut. Kedua orang adik saya yang kebetulan belum pernah sampai di puncak Rinjani (yang seorang memang belum pernah ke Rinjani, yang seorang setiap ke Rinjani selalu gagal sampai puncak, meskipun sudah tiga kali ke Rinjani), sangat semangat mewujudkan kelakar saya. Alhasil, perbincangan di KRL ketika sampai di tujuan akhir Stasiun Bekasi, menghasilkan kesimpulan, Rinjani via Torean, 21-25 Juli 2018, agar dapat melihat purnama di puncak Rinjani. Kita Berangkat! Bungkus!

Satu hal yang harus di garis-bawahi. Melakukan perjalanan melewati jalur Torean, harus bersama porter/penduduk setempat  yang sudah paham betul jalan dan kondisi jalur Torean. Berhubung yang saya ajak adalah dua dedek-dedek, alhasil haruslah saya berhemat. Caranya? Kita ambil risiko tanpa porter.

What? Bahaya gak?
Tentu saja risiko yang kita ambil, berdasarkan riset dan perbekalan informasi sebanyak-banyaknya yang kami kumpulkan. Fakta bahwa jalur Torean itu berbahaya adalah benar. Kenapa? Hal ini dikarenakan jalurnya yang rancu, bekas jejak pijakan tidak sejelas jalur Sembalun maupun Senaru, karena masih sedikit yang melalui jalur Torean (belum menjadi jalur umum).

Lantas bagaimana caranya kami dengan percaya diri kesana tanpa menggunakan guide? Yap, kami mendownload track/jalur orang yang pernah mendaki melalui jalur Torean. Kemudian di sana kami menggunakan  jalur  tersebut dengan aplikasi di handphone salah satu dari tim kami. Alhamdulillah, aplikasi tersebut sangat membantu layaknya menggunakan Google Map atau Waze, Akan tetapi tanpa perlu membutuhkan sinyal (Ya kali nungguin sinyal di gunung!)

KENAPA VIA JALUR TOREAN?

Perlu diketahui hingga saat kami mendaki tahun lalu, pendakian dengan menggunakan jalur Torean terlebih dahulu belum ada perizinannya, karena belum ada surat izin masuk wilayah konservarsi (SIMAKSI) yang resmi melalui jalur Torean. Bisa dikatakan, jika mendaki dengan gerbang awalnya dari jalur Torean, maka termasuk pendakian illegal.

Oleh karena itu, berdasarkan saran kenalan adik saya, maka kami disarankan agar mendaki melalui jalur Sembalun (agar tercatat secara resmi) dan barulah dijemput di Desa Torean dengan memberikan waktu perkiraan sampai kami di Desa Torean nantinya. Hal ini tentunya penting untuk keselamatan kami sendiri.

Saat kami tiba di Desa Torean tahun lalu, kebetulan baru saja dilangsungkan rapat Desa, bahwa jalur Torean akan dibuka resmi lho. Kita tunggu saja nanti kabar bahagia Torean akan menjadi jalur resmi. Oh ya, sekedar tips, karena masih banyak penduduk ataupun porter yang meragukan pendakian tanpa guide penduduk lokal, jika di jalan ditanya turun lewat mana bilang saja “masih pikir-pikir dulu lewat Torean”. Dengan mengatakan hal tersebut, justeru akan semakin banyak informasi yang didapat dari guide lokal dan wejangan cara terbaik melalui jalur Torean.
Okeh! Saya mulai ya kenapa harus Torean.

Lekukan Dua Tebing Gunung

Lembah diantara dua bukit jalur Torean (dok. pribadi)


Sepuluh menit berjalan dari segara anak menuju Torean melalui jalur belakang WC Umum di Segara Anak (FYI  di Segara Anak sudah ada WC umum, dan menjadi patokan sederhana menuju jalur Torean), yang saya rasakan adalah saya sedang berjalan menuju dimensi lain antah berantah. Dimensi yang memiliki batas dunia nyata dan dunia hayal alam pikiran bawah sadar bagi siapapun yang melewatinya.


Hembusan angin menerpa wajah, mengibarkan slayer, jibab, atau apapun yang berjuntai pada siapapun yang berjalan melangkah di sana. Ketika kaki mengayun, langkah kaki seolah berirama dengan gerakan ilalang yang kompak menari seirama dengan hembusan angin.


Hal paling tepat yang menuntun intuisi saya saat itu adalah : “Ndar, jalanlah perlahan, berhenti sebentar, hiruplah bau angin bercampur ilalang ini yang menari beriringan. Hirup napas paling dalam, dan hembuskan perlahan. Pejamkan mata barang sebentar, biarkan angin menampar wajah di tengah terpaan mentari pagi yang dengan semangat memancarkan sinarnya.” Ya, waktu masih pagi menunjukkan pukul sembilan Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA).

Suasana Torean yang memanjakan daya imajinasi (dok.pribadi)


Salah satu jalur di Jalur Torean (dok.pribadi)



Semakin lama melangkahkan kaki, maka tebing semakin terbuka di antara dua punggungan gunung. Semakin tebuka, terbelah, nyata hijau menghampar. Dan saya? Ya berada di tengah-tengahnya hanya secuil titik diantara dua lekukan hijau yang menghampar luas. Subhanallah, kuasa Tuhan menciptakan pemandangan seapik ini.


Saat  saya berkhayal, maka setting film Narnia, Lot of The Ring, Jurasicworld, dan Jumanji berbaur di otak kanan saya menjelma menjadi hamparan pemandangan di depan saya waktu itu. Well,  maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan dengan pemandangan semahal itu.

Apa yang membuat mahal? Saya dan tim saya berempat menjadi saksi di tengah-tengah alam semegah dan seeksotik yang kami saksikan, tanpa gangguan dari keriuhan dan keramaian manusia. Yang terdengar hanya suara-suara jangrik, monyet, dan burung yang bersahutan di tengah hembusan deru angin. Pemandangan ternyaman yang saya nikmati selama mendaki gunung.


Sumber Mata Air Panas



Sumber Mata Air Panas di Belakang Segara Anak (dok.pribadi)




Menurut saya, adanya mata air panas pada saat mendaki gunung adalah bonus langka yang saya dapati. Selain saya tidak kuat dingin sehingga menemukan kehangatan air panas adalah suatu kebahagiaan, bonus lainnya ketika  berendam di air panas adalah dapat merelaksasi otot-otot saya yang menjadi kencang selama mendaki. Dua kali saya ke Rinjani, dua kali saya tidak melewatkan kesempatan berendam di sumber mata air panas di belakang area camping Segara Anak.

Sungguh! Bak berendam di bathtub besar alami dengan wallpaper air terjun nyata yang membentengi sumber-sumber mata air panas tersebut. Saat di Segara Anak yang lalu, saya berendam air panas malam-malam ditemani sinar cahaya bulan Purnama yang saat itu berbarengan dengan fenomena blood moon. Sungguh indah luar biasa malam itu di mata saya (tapi ternyata berbeda di mata teman perempuan saya satunya yang ternyata ahahaha... dia baru cerita setelah di Mataram, next saya tulislah).


Sumber mata air panas di belakang Segara Anak dikelilingi aliran air sungai normal dan air terjun kecil bersuhu normal/dingin. Akan tetapi, beberapa spot mata air untuk berendam membentuk lingkaran-lingkaran kecil sehingga membentuk perkomplekan mata air alami untuk berendam (ahahaa…perkomplekan!).


Tidak jauh berbeda dengan mata air panas di Segara Anak, 30 menit perjalanan jalur Torean dari Segara Anak, maka kami menemukan beberapa sumber mata air yang sangat jernih berlatar pemandangan terbuka hamparan lekukan hijau punggungan gunung Rinjani. Konon, banyak pendaki yang menghabiskan waktu bermalam membuka tenda di sekitar area mata air hangat tersebut.
Sumber Mata Air di Jalur Torean (dok.pribadi)



Ada sekitar 4-5 kubangan mata air yang membentuk lingkaran bundar. Kami bisa memilih mata air mana yang ingin disinggahi untuk kecipak-kecipuk  main-main air. Saat kami tiba di sana, beruntung kami bertemu sekitar 18 orang anak aseli Lombok Tengah yang sedang hiking asyik tanpa membawa perlengkapan mendaki. Keberuntungan untuk kami, kami mendapatkan guide penunjuk arah gratis karena salah satu diantara mereka sudah berkali-kali melalui jalur Torean dan hapal betul dengan jalan. Sayang, mereka bukan jalan-jalan, tapi setengah berlari, sehingga kami pun terpisah jarak dengan mereka. Eits, kami kan punya GPS yang sejauh ini ampuh menuntun jalan kami. Jadi kami melanjutkan perjalanan berpatokan dengan GPS.


Lima menit dari sumber mata air yang berkelompok ini, ada sungai beraliran air panas yang bentuknya indah seperti anak tangga. Kami pun berswafoto mengabadikan momen indah tersebut.
Air Terjun Air Hangat di Jalur Torean (Dok. Pribadi)


Oh ya, di dekat sumber mata air panas ini, sebetulnya dekat dengan Goa Susu (yang terkenal di Jalur Torean). Namun, anak-anak Lombok Tengah itu bilang tidak terlalu bagus pemandangannya dan hanya tempat untuk bertapa saja, jadi tim kami agak malas menyambangi Goa Tersebut. Kebetulan, saya baru saja datang bulan, saat di Segara Anak. Jadi, daripada ada kejadian macam-macam, amannya tidak perlulah saya kepo ke tempat yang memang sering digunakan untuk bertapa itu. Meskipun ternyata…. Jalur Torean tidak cukup ramah untuk wanita yang sedang haidh datang bulan (kapan-kapan saya tulis sesi tersendiri kisah-kisah mendaki sambil datang bulan lah yaa.. n_n).

Membelah Sungai Bening, Toska, dan Berakhir pada Air Terjun Toska

Coba-coba kamu bayangkan. Selama kamu melalui jalur Torean, maka jalur yang disarankan untuk kami lalui sesuai GPS adalah menemukan aliran sungai, menyusuri sungai, berjalan di sisian sungai, menyeberangi sungai mulai dari alirannya masih kecil hingga kami menemukan aliran sungai yang cukup deras, kemudian kami berpisah dengan sungai tersebut, memanjat tebing, sehingga dari atas tebing, kami dapat melihat kelok-kelok sungai yang kami lalui tadi (sungai tersebut bernama sungai Lokok Putih). Seindah itu jalurnya!
Salah satu aliran anak Sungai Lokok Putih (Dok. Pribadi)

Sungai tersebut sangat super super super jernih. Sayangnya tidak boleh diminum, karena ada unsur belerangnya. Ingat ya! Tidak bisa diminum! Anehnya fenomena yang saya juga tidak mengerti, setelah kami dari atas bukit punggungan Torean, aliran sungai yang kami lewati tadi, lama kelamaan berwarna toska. Hal yang lebih mengejutkan lagi, setelah kami lama meninggalkan sungai yang telah jauh tertinggal di belakang kami.

Pada satu titik, 4 jam perjalanan dari Segara Anak (versi kami, mbak-mbak santai, dikawal dedek-dedek lho ya), kami menemukan air terjun yang bernama Air Terjun Penimbungan dengan ketinggian 100-110 meter. Air terjun ini masuk dalam jajaran 10  Air Terjun Tertinggi di Indonesia. Aliran air terjun Penimbungan bersumber dari Danau Segara Anak, tak heran apabila debit alirannya terlihat sangat sangat deras.
Air Terjun Penimbungan dari bukit yang berlainan (dok.pribadi)

Dari seberang tebing, kami duduk bengong-bengong bego (tapi jangan kelamaan bego-nya, nanti lupa jalan pulang), menelanjangi kucuran aliran air terjun yang sangat deras tersebut dengan dasar cekungan air terjun  di bawahnya yang berwarna toska. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Terima Kasih Tuhan, bonus melihat pemandangan Air Terjun Tinggi di Indonesia selama melalui jalur Torean ini.


Melewati Sumber Mata Air Terenak Tiada Banding

Bagi yang sudah ke Rinjani sebelumnya, kalian setujukah kalau sumber mata air di Sembalun adalah yang terenak? Air dari mata air Sembalun, rasa sejuknya, menusuk hingga kerongkongan. Segarnya membius dahaga, hingga menyegarkan bagian otak terdalam (ah lebay lu Ndar!).


Saya sangat setuju kalau kalian bilang sumber mata air Sembalun yang terenak, sebab mata air di Segara Anak rasanya kurang enak untuk diminum (untuk lidah yang susah diajak kerja sama seperti lidah saya), kayak ada bau kayu kayu nya gituh.

Dalam urusan rasa air minum, lidah saya rewel dan cukup kurang bisa diajak kompromi jika minum air yang sedikit berbau maupun berasa seperti bau asap, bau arang, seperti rasa sepat, rasa langu atau rasa-rasa lainnya yang aneh ketika diminum (tidak termasuk rasa yang pernah ada diantara kita ya... #eh).


Oleh sebab itu, saya selalu membawa minuman sachet berasa seperti Nutri Sari, Adem Sari, Jess Cool, atau Pocari Sweat sachet dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minum dari awal pendakian hingga akhir. Kebayang kan kalau saya tidak jadi minum hanya karena lidah saya tidak tertelan air putih yang berasa, bisa dehidrasi nantinya.


Jadi, kalian wajib percaya bahwa selama pendakian di Jalur Torean, kira-kira 2-3 jam perjalanan dari Segara Anak, di antara dua bukit yang dibelah oleh aliran Anak Sungai Lokok Putih kami menemukan mata air TERENAK selama mendaki gunung. Enak! Sumpah Enak Banget! Kalah itu merk Aqua. Mata Air dari Sembalun pun juga jadi kalah enaknya dibandingkan yang satu ini. 


Mungkin karena  mata air ini berada pada posisi yang lebih sulit dijangkau, jauh dari sumber pencemar manapun, sehingga rasanya jadi sungguh luar biasa enaknya. Saking enaknya, kami mengganti isi botol air minum kami dari mata air yang sebelumnya kami temukan di sungai jernih sebelumnya (bukan sungai berasa belerang ya). Kami ganti seluruh perbekalan air minum yang berasal dari mata air Segara Anak dan mata air Sembalun dengan mata air yang sangat segar ini. Sayang sekali bukan jika botol-botol persediaan air minum kami tidak diisi dengan mata air ini super enak ini? 


Kami melepas dahaga sepuasnya. Duduk memandangi bukit di seberang, ternyata memang banyak pipa-pipa besar yang sepertinya dialirkan ke masyarakat sebagai sumber air minum di desa terdekat. 


Kami semakin yakin bahwa mata air ini memang yang ter-enak! Selama saya naik gunung, mata air di gunung Papandayan masih termasuk kategori enak diminum langsung dibandingkan gunung lain yang saya datangi. Namun kali ini sumber mata air minumnya lebih segar, enak , dan ah sudahlah. WAJIB COBA POKOKNYA.

Sumber Mata Air diantara lembah dan sungai di Jalur Torean (dok.pribadi)

Tantangan Adrenalin

Alasan lain selain keindahan-keindahan yang disajikan di jalur Torean, ada juga beberapa tantangan yang tidak cukup sulit, namun jika tidak bekerja sama dengan team akan sedikit menyusahkan. Beberapa kali kami melewati tanjakan dari kayu-kayu yang hanya diikat tali rapiah plastik, bukan tali tambang yang tebal lho, ini tali plastik yang tipis. Agak deg-degan sejujurnya.


Sangat tidak safety, makanya harus super hati-hati, dibantu teman, dan sebaiknya tas cariel dilepas dulu. Beruntung saat kami melewati jalur tersebut, sedang ada team  lain yang juga lewat. Mbak-mbak lemah ini akhirnya turut dibantu oleh  mas-mas rombongan lain yang lebih strong. Selain itu, ada aliran sungai yang harus disebrangi, namun debitnya cukup deras. Kita harus berhati-hati agar tidak terbawa arus.
Anak Tangga di Jalur Torean, harus waspada dan hati-hati (dok.pribadi)

Jalur Torean yang samar akan pijakan manusia, juga menjadi tantangan sekaligus menguji kewaspadaan kami. Selama mendaki gunung, biasanya patokan jalan yang dilalui adalah mengikuti jejak sampah. Dikarenakan Torean masih tergolong sedikit yang melaluinya, jejak sampah memang ada, tapi tidak terlalu banyak. Sempat di awal memasuki jalur Torean kami terkecoh dengan percabangan, yang banyak cabangnya, sama-sama terdapat jejak sampah, sama-sama seperti sering dilalui manusia jalur setapaknya. Akan tetapi, hanya satu yang benar, yang lainnya (mungkin benar), tapi akan membuat jalur lebih panjang dan sebagainya.

Saat menguji jalur inilah, meskipun kami berbekal aplikasi track GPS , tetap saja, kami harus bekerja sama. Satu orang duduk sebagai patokan, yang lainnya menguji jalur benar tidaknya. Jadi, jangan ke Torean bersama kawan yang gak solid, dan gak setia kawan, bisa-bisa repot sendiri nanti.
Beberapa Jalur yang cukup terjal di Jalur Torean (dok.Pribadi)

Setelah berbagai macam keindahan yang tersaji di sepanjang perjalanan. Tibalah saatnya memasuki kawasan Hutan Torean. Hadeuuuuh Pe-eR banget menurut saya, setengah perjalanan jalur Torean sampai tiba di pedesaaan, 50% nya harus melewati hutan ini. Hal yang bikin was-was adalah pesan hampir semua orang dan porter lokal : “Jangan sampai kejebak malam di dalam hutan Torean”. Duh, Hayati jadi khawatir kan?

Ternyata benar gaesss…di salah satu wilayah Hutan Torean ini, terdapat daerah yang kondisinya gelap banget, super lembab, sangat basah, meskipun matahari masih terik dan bersinar terang. Coba bayangkan hayo, bayangkan kalau malam-malam di kegelapan kamu jalan di situ. Haduh, mon maaph sodarah, cukup sekian dan terima kasih. Siangnya saat matahari bersinar saja sudah gelap karena tertutupnya sinar matahari oleh lebatnya pepohonan tinggi dan rindang.

Saya sebagai yang terlemah fisiknya saat itu (karena cedera engsel kaki saya kambuh), yang tadinya jalan saja harus diseret, berubah pikiran setelah melihat kondisi Hutan Torean tersebut. Setelah beristirahat makan siang, saya perbanyak makan agar menambah asupan energi. Selama melewati jalur Torean saat itu, kira-kira hanya ada 8 team termasuk kami yang hari itu turun melalui jalur Torean. 

Tim terakhir yang menyapa kami dan sering susul-menyusul adalah tim beranggotakan 5 orang mahasiswa dari Bima dimana terdapat seorang yang cedera kaki. Berdasarkan info dari salah satu rombongan yang sudah pernah melalui jalur Torean tersebut, kami akan menemukan ladang jagung yang berarti sudah keluar dari kawasan Hutan Torean. Estimasi tim tersebut, sekitar 4 jam lagi dari posisi kami beristirahat makan siang kala itu, barulah kami tiba di ladang jagung.

Wow! Saat itu pukul dua siang. Perkiraan mahasiswa Bima tersebut adalah perkiraan jalan cepat ala mereka untuk kami selama 4 jam. Please lah, mereka saja yang berangkat dari Segara Anak 3 jam setelah kami, bisa menyusul kami hingga sejauh ini, berarti bisa jadi kami lebih dari 4 jam jika menggunakan tempo perjalanan seperti sebelum makan siang. Yakni tempo alon-alon asal kelakon.

Pusing kepala Hayati saat itu juga,  memikirkan akan terjebak Maghrib di dalam kegelapan hutan Torean. Hutan yang tanpa menunggu malam gelap, memang sudah gelap dalam teriknya matahari. Ohhh.. No!!

Setelah makan siang itu, saya mengajukan diri menjadi yang paling di depan, agar yang lain mengikuti tempo saya. Saat itu saya berjanji dalam hati. “Ya Tuhan, ijinkan saya membawa rombongan saya ini keluar dari Hutan Torean, sebelum matahari terbenam.”

Entah energi dan kekuatan dari mana? Setelah saya berjanji dan bertekad seperti itu, speed saya meningkat 4 kali lipat, kaki saya yang cedera tidak kerasa sakit lagi. Yang awalnya saya hanya mampu  berjalan dengan kaki terseret karena terkilir, bahkan saya bisa berlari membawa rombongan ke luar Hutan Torean sesuai target. Sebuah Keajaiban. Kami tiba di ladang jagung bahkan saat matahari belum terbenam. Dari ladang jagung tersebut kami memilih alternatif naik ojek lokal menuju desa Torean agar tidak terjebak petang.
Tarif Ojek dari Ladang Jagung setelah keluar Hutan Torean menuju Desa Torean (dok.pribadi)
Tantangan terbesar saat itu bagi kami adalah, tantangan melawan waktu untuk ke luar dari hutan lembab Torean. Ke luar hutan sebelum petang tiba dalam kondisi badan babak belur, terkilir sana-sini, dengan sisa energi setelah naik-turun bukit dan puncak Rinjani selama empat hari ke belakang. Sungguh tidak disangka.

YANG PERLU DIKETAHUI

Singkat cerita kami berhasil melalui jalur Torean dengan waktu  tempuh selama 8 jam, yakni pukul 09.00 WITA mulai jalan dari Segara Anak, dan tiba di ladang jagung pukul 17.00 WITA. Waktu yang cukup cepat, komentar dari Bapak porter kenalan kami. Sebaiknya jika ingin menempuh jalur Torean, tidak terjebak malam di dalam hutan, dan tidak terburu-buru, disarankan paling telat memulai perjalanan menuju Torean dari Danau Segara Anak pukul 07.00 pagi. Dari seluruh perjalanan, beberapa hal penting yang dapat disiapkan jika ingin melewati jalur Torean berdasarkan pengalaman kami adalah :
  1. Pastikan menggunakan jasa guide lokal/ porter sebagai penunjuk arah jalan, sebab jalur Torean masih samar. Jika menggunakan perangkat dan aplikasi pribadi, pastikan dalam satu tim terdapat anggota yang paham membaca arah di dalam hutan.
  2. Pastikan isi tas cariel tidak terlalu banyak, agar tidak berat membawa cariel saat melalui jalur-jalur tangga yang cukup licin dan ringkih sepanjang perjalanan.
  3. Pastikan perbekalan makanan cukup hingga ke luar Hutan Torean. Hal ini dikarenakan butuh banyak energi untuk bertahan di jalur turun pendakian melalui jalur Torean.
  4. Pastikan semua team memiliki tekad dan niat yang KUAT. Kenapa? Karena dengan tekad dan kemauan yang kuat semua bisa terjadi, termasuk tekad kami yang ingin ke luar Hutan Torean sebelum petang. Tanpa tekad kuat, semua akan terasa berat.
  5. Beberapa jalur dan infrastruktur pasca-gempa tahun lalu belum dapat dipastikan kerusakannya. Info terakhir, pendakian hanya diijinkan hingga Plawangan. Patuhilah peraturan dalam pendakian, untuk keselamatan pribadi. Semoga setelah dipastikan aman, jalur Torean, Sembalun, dan jalur Senaru dapat dilewati dan didaki hingga ke Puncak Rinjani.
  6. Setiap pendakian di bulan Juli di tujuan wisata internasional seperti Rinjani, akan lebih banyak bertemu dengan wisatawan mancanegara dibandingkan dengan wisatawan lokal. Pandai-pandailah beradaptasi dalam hal apapun.
  7. Dimanapun kita berada, baek-baeklah dan ramah dengan porter dan penduduk setempat. Kami selalu dapat lapak tenda bagus, dan sering ngobrol serta berbagi dengan bapak-bapak porter. Beda banget kan dengan postingan di instagram yang ramai terkait sekelompok pendaki lokal diusir oleh porter lokal demi  mementingkan wisatawan luar. Perihal etika dan tingkah laku kita yang memanusiakan manusia, dapat membuat kita dihargai orang lain tanpa perlu minta dihargai. Kami bahkan sempat diceri beras secara cuma-cuma dan gratis oleh penjual pocari sweat saat kehabisan beras dan tidak mau dibayar sama sekali. Terharu akutuh.
  8. Pastikan selalu berDOA dan meminta RESTU serta ridho orang tua dan keluarga. Dengan doa restu, segala perjalanan akan terasa ringan dan selalu dimudahkan (terlepas dari takdir kita sendiri). Memilih tanggal untuk melihat bulan purnama di puncak Rinjani, sehingga kami mempercepat jadwal kami satu minggu lebih awal mengikuti kalender bulan Hijriah dari rencana sebelumnya, membuat kami sangat bersyukur masih diberikan kesempatan merasakan indahnya Torean dari awal hingga akhir. Jika kami tidak memajukan tanggal perjalanan kami seminggu lebih awal, tepat setahun lalu, Rinjani sedang berguncang menunjukkan kekuasaan Tuhan dimana sejak 29 Juli 2018 dan beberapa bulan setelahnya Rinjani masih terdapat guncangan gempa susulan ratusan kali.

Terima kasih mbak Anis, Icus, Babal, kita berhasil menjadi tim yang solid sejak berangkat hingga pulang ke rumah dengan selamat.


Pertanyaan, saran, serta diskusi yang membangun bisa ditambahkan di kolom komentar ya kawan. Terima kasih telah membaca sepintas perjalanan tim kecil kami. Oh ya, sekilas dokumentasi kami selama melakukan perjalanan Rinjani via Sembalun-Torean yang telah diupload di Youtube, dapat dilihat dengan cara klik link ini.